Tampilkan postingan dengan label Marriage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marriage. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Agustus 2014

Luruskan Niatmu dalam Menikah

Beberapa hari ini aku bertemu dengan beberapa teman yang sedang galau dengan kesendiriannya, dan sedang sangat ingin menikah.
Lalu, inilah beberapa nasehat ku kepada beberapa teman wanita ku, supaya mereka dapat melihat dari sudut pandang lain.. inshaallah..

1. Jangan menikah HANYA karena melihat teman-teman mu sudah mulai menikah

2. Jangan menikah HANYA karena kamu sudah bosan ditanya-tanya oleh orang-orang sekitar kamu "kapan nyusul??" Dan umurmu selalu bertambah

3. Jangan menikah HANYA karena kamu merasa semua masalahmu akan hilang dengan memiliki "status menikah"

Menurut aku, 3 hal ini penting untuk dipertimbangkan sebelum memutuskan berumah tangga.

Jika kamu galau untuk segera menikah hanya karena melihat teman-teman mu sudah pada menikah dan kamu merasa tertinggal lalu kamu sedih dan depresi, maka jangan menikah dulu. Luruskan dulu niatnya.

Jika kamu menikah hanya karena bosan ditanya-tanya terus "kapan nyusul?", sehingga setiap ada lelaki yang dekat, tanpa kamu melihat seberapa cinta dia agamanya, dengan Allah, kamu lgsg ingin cepat-cepat menikah saja. Ingin cepat-cepat dilamar saja rasanya. Jika iya, Istighfar.. calming down. Luruskan dulu niatnya.

Menikah memang seperti telah mengerjakan separuh agama, tapi dengan syarat, bahwa pernikahan dapat membuatmu dan pasangan menjadi lebih baik dalam menjalankan ibadah. Yang tadinya sholat bolong-bolong jadi 5 waktu. Yang tadinya sholat telat-telat jadi tepat waktu. Yang tadinya sering lupa sama Allah, jadi selalu ingat untuk menyebut nama-Nya... dll

Jadi, pilihlah pasangan yang dapat menuntunmu di jalan Allah. Berjalan bergandengan di jalan Allah. Bukan asal memilih pasangan karena merasa diburu-buru dengan keadaan dan lingkungan.

Kamu yang menjalani pernikahan nanti, bukan orang lain. Bukan juga orang-orang yang selalu menanyaimu "kapan menikah?" setiap ketemu kamu.
Buru-buru itu sifat setan. Jadi, saat kamu merasa "terburu-buru", coba istighfar. Tapi, kalau memang semua hal dilancarkan sama Allah, pasti kesannya bukan buru-buru, tapi kesannya lancar dan mulus jalan Nya karena Ridha Allah. Hati tenang saat menjalaninya..

Ingat, pernikahan tidak berhenti di resepsi indah yang semua wanita impi-impikan.
Tapi, pernikahan itu berawal dari berakhirnya gegap gempita resepsi.
Back to the real world. Back to the real problem.
Janganlah hanya mengkhayalkan indah nya resepsi, tapi cobalah mendewasakan diri dengan mempersiapkan personality kita sebagai istri dan calon ibu nantinya.
Jangan tersilaukan dengan indahnya resepsi teman-teman mu, tapi berfokuslah untuk menyiapkan diri sebagai pribadi yang pantas untuk menjadi istri, untuk berumah tangga.
Karena, jika kamu sudah memantaskan diri, dan ikhtiar di jalan Allah serta tawakkal untuk menikah karena Allah, inshaallah Allah akan melancarkan jalan jodohmu..
Karena mungkin, Allah tahu, jika kamu diijinkan Allah menikah sekarang, mungkin psikologismu akan lebih kacau karena ternyata kamu belum siap menanggung tanggung jawab dan kewajiban sebagai seorang istri.
Allah hanya memberi mu waktu untuk mendewasa, bersyukurlah :)
Allah Maha Tahu, sedangkan kita tidak tahu apa-apa.
Luruskan Niat, Ikhtiar di jalan Allah (persiapkan dan pantaskan diri) dan Tawakkal kepada Allah (minta terus sama Allah).
Inshaallah Khair


Sabtu, 06 April 2013

Marriage Box

I've ever read about this "Marriage Box" things. And I re-read again and again and agai and again.. Until I really understand instead just know.
In this moment, I'll try to re-write what I read, so you can read it and understand it like i did before.
This is it...

"Most people get married believing a myth that marriage is a beautiful box full of all the things they have longed for : companionship, intimacy, friendship, etc. The truth is that marriage at the start is an empty box. You must put something in before you can take something out. There is no love in marriage. Love is in PEOPLE. And People put love in marriage. There is no romance in marriage. You have to infuse it into marriage. A couple must learn the art and form the habit of giving, loving serving, praising, keeping the box full. If you take out more than you put in, the box will be empty"

Just re-read this statement, and understand it. That's the marriage means.
What colors of your box is according to two people in marriage live.
What kind of things in that box is according to TWO PEOPLE in marriage live.

with love,
mrs.devi yanuari
@deviyanuari

Kamis, 04 April 2013

He is a Good Listener

This morning, I told him about how lucky I am to have him. One of the best thing that he have is, he is a GOOD LISTENER. I'm a woman who love to out loud the things inside my head. And he love to hear. SO much thing I can talk to him. From a little thing which is not that important to tell about, until the biggest thing of my life. Because of his kindness to hear whatever I want to talk without any filtering, I satisfied and there are no more words can I share to anyone else but the important one.

I can tell him about whats going on in my head and my heart.
I can tell him about my opinion. My opinion about the air, the sun, the sky, the weather, the bugs, the color of my hair, the color of my dress, about my acne, about my blackheads, about my nails, about my teeth, I can tell about everything.
I can tell him about my opinion. My opinion about the movie we've watch, about the infotainment in television, about politics, about religion, about the people I love, about the people I care, about the people I hate, about everything.
Yes, everything means everything.

And if something bother my head until I cannot sleep, He can stand to not sleep to accompany me, to hear my anxiousness.

And if someone tell me about their secret and I promise them to not telling anyone in this earth, it's exclude Iwa. Iwa knows everything that I know. And surely that people who tells their secret to me, know that fact, and they understand. :)

At the same time, Iwa can tell everything to me.
About his sadness if Juventus failed the game.
About his new strategy to play ping pong.
About his happiness when playing futsal.
He tell me about whats going on in his office, his friends, his mind.
He tell me about what bother him.
He tell me about makes him happy and sad.
He tell me about everything.
Yes, he talk that much when with me.

Because of this habbit, automatically we learned about how to tell something with a good way.
We can make a differentiation between being honest with being rude.
And this habbit is established from our relationship in high school.

We believe about the power of words. And we prefer to raise our words than our voice. 
Because, Its is rain that grows flowers, not thunder.

With love,
Mrs.Devi Yanuari
@deviyanuari

In the Middle of the night

Waking up in the middle of the night with no reason. Shifting under the blankets and feeling the heat of the person next to me - Iwa. I turn around and see him in his most peaceful and innocent state. He's breathe as though the weight of the world lays on anyone's shoulder but his own. I stare at him, looking at him, pretty long time.. hahahaa.. Identify his eyebrow which very beautiful, not like mine -____-". Looking his lips which like a shape of heart (even I always said to him that his lips is like a boo.. hahahhaaa.. :)) ). Then I kiss him, in his adorable cheek in the most gentle manner so as not wake him. I turn back around. After that, I feel arm wrap around my waist and I realize it doesn't get any better than this. 
Oooh yes, I love him that much.


Selasa, 02 April 2013

Pictures - Our Prewed at our Highschool


This is the place when I said "YES" for his proposal to be his girlfriend




My Favorite pict!!!





Senin, 01 April 2013

Tempat Istri adalah di Samping Suami


One thing I've recognized when I'm so far away from my husband in a pretty long time is EMPTYNESS MOMENT. Sepedalaman apapun Sanggau ini, tetap paling aman, nyaman dan bahagia saat aku bisa berada dekat suamiku. Gemerlapnya Surabaya dan betapa komplitnya segala fasilitas maupun tempat hiburan di Surabaya, ternyata tidak bisa menggantikan my trully happiness when my husband close to me. 
This is my new formula that I've found :

ME + My Husband = COMPLETE

ME - My Husband = EMPTY or NULL or { } or ERROR

This is true guys, I'm not joking..
Then I'm thinking about what God wants. You know, about why I'm here. why He's here.
So, I realized that we are where God wants we to be at this very moment.
Every exprience is part of his divine plan.
Maybe it's can explain why I'm so glad be here. beside my husband. In the middle of jungle.
Even a lot of my friends just didn't believe if I can survive without any glamorous thing in Surabaya, I BELIEVE. As long as God with me. And ofcourse as long as my husband beside me, everthing is possible.
This is called positive energy.

Sanggau memang tempatnya Galau, tapi kalau galau ya berdua sama suami, rasanya ga ada apa-apa nya. Tinggal bagaimana aku mencari kesibukan disini. Sekaligus untuk aktualisasi diri. Menjadi aku yang lebih berguna bagi orang banyak. Dan mencoba untuk mentransfer ilmu ku selama berkuliah di UNAIR dari Diploma sampai Sarjana dalam dunia kerja.
Ouuuyeeaaah, I want to get a job! Berkarier!! And ofcourse in Sanggau, the place where my husband exist. hohoho..
Sebenarnya sudah ada beberapa tawaran kerja saat aku di Surabaya, hanya saja, itu di Surabaya brooo.. Aku pertimbangkan dengan gaji yang di tawarkan, hmmmm.. I guess not.
Aku rasa aku bisa dapat dengan jumlah yang tidak jauh berbeda di sini, di Sanggau, di dekat suamiku :) Insyaallah ya :)
Fyi, aku sudah cetak banyak CV dan segala dokumen pendukungnya untuk melamar pekerjaan di Sanggau. Doakan saya ya!!! Bismillah.. Hap!Hap!Hap!!
Untuk perusahaan yang menerima aku mah, g bakal rugi! Udah kreatif, pinter, pekerja keras, loyal pula.. #tsaaaahh #promosi hahahaaaaa... :))

with super energy,
mrs.devi yanuari
@deviyanuari

Back To Sanggau


Hi there!! Here I am back to Sanggau…
1,5 Bulan aku di Surabaya, menyelesaikan segala urusan berkaitan dengan wisuda. Dan saat semua akhirnya selesai, aku kembali lagi ke Sanggau, di sisi suamiku.
Sudah lama sekali aku tidak membuka blog ku dan berbagi cerita. One of the reason is my netbook bought by my husband. And writing blog in my tablet is not enjoyable. Aura penulis dari diriku langsung hilang begitu saja. Hohohooo..
Padahal, begitu banyak yang aku dapat selama di Surabaya, entah itu pengalaman aktivitas ku selama disana sampai dengan pelajaran-pelajaran yang aku dapat. From laughing 'till crying and back to laughing again.. Yeaaahh.. It's called life, right??

I'm the woman who still in progress of actualization. Still searching about what the hell that makes me happy. And still figure out, What I really really want. I'm 24 years young (refuse to write "years OLD" hahahaaa..) and still encourage my knowledge about life, love and laugh. About partnership and friendshiutp. About friends, best friends and family. About How to achieving my dreams
My head always thinking about "What can I do for people who I love?" "rewWhat should I do to make them happy?" What ini dan What itu… What…What..What…

Have you ever stuck in the situation or moment when you have to be someone else? Because, when you totally become "you" the people on that situation will hurt?? Have you ever stuck on that situation? When someone else in your environment wish "something different" with what you really want?? Because, I had And that situation made me hardly to breath, nyeseeeeekk.. You want to talk but can't. You want to cry but your cry never fall out. You just want to be someone who can make that people happy, because you just too love that people. But , its just not enough. And unfortunately, you screw up!

When I'm in Surabaya, so many times I "waste" to think. Yeah, thinking about how the way I survive. How I still can be my own self without hurting people who I love. Even in the process I screw up (asyeeeemm) but, I still learning. Huft… If only……

In the Other Story,, kemaren aku seperjalanan sama Kasi Umum nya Iwa, Pak Hartawan. He's a nice person. Low Profil. Dan suka ngobrol, which is good. Aku suka di ajak berbincang, so I like this Man. One thing that made me surprise is he recognized me!!! hahahaa.. yes, he know me from my blog. He is a new man in KPP Pratama Sanggau - WELCOME TO THE JUNGLE SIR!! ^o^ . Saat SK beliau turun dan beliau tahu akan ditempatkan di Sanggau, beliau langsung searching di internet What Sanggau is. Then, taraaaa, he found my Blog. He said I have a nice blog. And he loves to read it. heheheee.. jadi maluuu #blushing. Fyi, I feel happy when I know my husband have a good and kind boss. Punya atasan yang baik itu sebuah anugrah lho. Sekaligus bisa untuk di contoh, supaya nanti suatu hari Iwa sudah jadi atasan, dia juga akan menjadi atasan yang baik.. Nice trip with a nice guy.. What a day!  :)
*Oya, untuk di garis bawahi dan di cetak tebal, jalanan di Sanggau MASIH rusak dan kerusakannya MASIH unlogic. Lampu MASIH jarang. And the important thing is aku MASIH betah dan bahagia as long as I'm in beside my husband. Period.

Oke, on my next blog I'll write something more interesting yah..
Tulisanku di atas itu hanya kata-kata yang terlalu lama riwa-riwi di kepalaku..
Next blog I'll write something which more faedah ya..

Anyway, the first time I got back to my house in Sanggau, I was Shocked!!!! Rumahku kayak kapal pecah.. T-T Oh, pelajarannya adalah jangan tinggalkan rumahmu sendirian dengan suamimu… T-T *cubit pipi suami*

With love,
Mrs.devi yanuari

Senin, 24 Desember 2012

Happy holiday all :)

Seharian ini aku dan suami sedang sangat menggemari permainan tetris. Hahahaaaa.. Kami bermain sangat serius. Benar-benar sebuah pertandingan yang ingin kami menangkan. Persaingan yang cukup ketat di antara kami. Walaupun dari 5 set pertandingan aku hanya bisa menang 1, tetap saja aku tidak menyerah dengan terus menantangnya bermain. Saling olok sering terjadi saat pertandingan antar kami berlangsung, selain mengolok-olok membuat suasana menjadi heboh, mengolok-olok juga dapat menjadi strategi jitu untuk menjatuhkan mental lawan.
Dan sebenarnya, mentalku lah yang lebih sering jatuh. Sekalinya konsentrasiku lepas dan keadaan menjadi tidak terkendali, aku jadi sangat mudah panik.. Haiiisshhh..

Hari ini adalah hari libur bersama, long weekend. Banyak dari rekan kami di Sanggau ini pulang ke kampungnyq masing-masing. Tapi kami memutuskan.untuk tetap di Sanggau karena Februari insyaallah kami sudah ada jadwal untuk pulang ke Surabaya. Jadi, jatah cuti dan biaya transportasi yang lumayan mahal itu (perjalanan darat dan 2x pesawat) akan kami save dulu untuk februari.

Walaupun liburan kami tetap di Sanggau, kami insyaallah tidak kehabisan ide untuk menghabiskan liburan kami dengan menyenangkan. As long as we are together, side by side, insyaallah everything will be fun. Cuz, happiness is about creating not finding. So, bangunlah kebahagiaanmu sekarang, di tempatmu berada, di sekeliling orang-orang yang ada disekitarmu sekarang. :)

Happy holiday all :)

Selasa, 18 Desember 2012

Sintang

Sekarang aku sedang berada di kota Sintang, menemani suamiku dinas. Jarak Sanggau-Sintang 4jam perjalanan. Jarak Pontianak-Sintang 10 jam perjalanan. Yang jelas, sintang berjarak lebih jauh dan lebih masuk ke dalam hutan. Jalanan menuju kesana juga rusak. Lebar jalannya pun lebih sempit jika dibandingkan dengan sanggau-pontianak. Entah kenapa aku merasa bahwa perjalanan ke sintang ini lebih menakutkan. Selain karena lebar jalan yang sempit, juga karena medan jalan yang berlikuk dan terjam.

Namun, sesampainya aku di Sintang, terlihat perekonomian di sini terlihat lebih baik daripada Sanggau. Dapat aku lihat pembangunan cluster2 perumahan, daerah pertokoan pun sudah cukup maju. Sekilas mengingatkanku dengan kota Malang, Jawa Timur.

Selain itu, di Sintang juga telah di bangun bandara perintis, dengan pesawat yang berisikan 46 penumpang. Cukup menarik, karena dengan adanya pesawat ini, warga sintang dapat dengan mudah naik pesawat menuju pontianak. Mungkin inilah salah satu alasan di adakan penyuluhan di Sintang. Sehingga penyuluh dari Jakarta dapat lebih mudah mengakses venue pertemuan tanpa harus merasakan drama di daratan.. hahahaaa..

as conclusion, Sintang memang lebih pelosok daripada Sanggau, tapi juga sekaligus lebih terasa aura perkotaan jika dbandingkan dengan Sanggau.

Ridha Suami

Mengapa ridha suami itu adalah syurga bagimu wahai para istri:

1. Suamimu dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu, bahkan sering kala rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.

2. Suamimu dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah dan ibunya hingga dia beranjak dewasa. Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menanggung nafkahmu, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.

3.Suamimu ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu. Padahal dia tahu, di sisi Allah, engkau lebih harus di hormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya. Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik dari padanya di sisi Allah.

4.Suamimu berusaha menutupi masalahnya dihadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi. padahal bisa saja disaat engkau mengadu itu, dia sedang memiliki masalah yang lebih besar. namun tetap saja masalahmu di utamakan dibandingkan masalah yang dihadapi sendiri.

5.Suamimu berusaha memahami bahasa diammu, bahasa tangisanmu. sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.

6.Bila engkau melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka, karena dia ikut bertanggung jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah di tuntut ke neraka. karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggung jawabkannya sendiri...
-ust.ya'kub "makkah"-

Minggu, 09 Desember 2012

Menemani Suami di Rantau

Pagi ini ada seorang teman yang bertanya padaku..

"Dev, apa kamu pernah menangis saat merantau menemani suamimu? Karena aku sering menangis sekarang, saat ikut suamiku merantau di Jakarta"
"Dev, kok aku liat kamu seneng terus ya? gak pernah homesick?"

Ini jawabanku...

Bohong kalau aku bilang aku tidak pernah menangis. Alasanku menangis adalah karena keadaanku sekarang. Tinggal di pedalaman, jauh dari kesibukan yang biasa aku lalui di Surabaya. Disini juga "sepi" kesempatan, baik itu berdagang, bekerja, berorganisasi maupun bersosialisasi. Jika ingin bekerja   yang sesuai dengan pendidikanku, aku harus menyeberangi sungai kemudian melewati hutan sawit beberapa jam untuk mencapai kantor. Malam hari minim lampu, yang itu artinya tidak mungkin aku pulang ke rumah setelah bekerja, yang itu artinya aku harus memilih tinggal di mess, terpisah dari suamiku, dan itu jelas bukan pilihan yang akan aku ambil. So, Iya aku menangis karena merasa begitu tidak berdaya.

Tapi kemudian aku mengingatkan diriku bahwa menikah lalu menemani suamiadalah pilihanku. Oleh karenanya aku harus komit terhadap setiap pilihan yang sudah aku buat. Alih-alih menangis aku memikirkan solusi. Tidak mungkin Allah menempatkanku di posisiku saat ini tanpa adanya alasan untuk membesarkanku. Dan aku begitu yakin bahwa rejeki ku akan dilimpahkan oleh Allah di mana suamiku berada. Selama aku dekat dan berada di manapun suamiku berada, aku percaya disitulah Allah melimpahkan rejekiku, rejeki kami. bukankah rejeki Allah itu tersebar di seluruh penjuru bumi? Why I should be worry??

Bohong jika aku katakan bahwa aku tidak pernah menangis. Tapi aku selalu ingat pesan orang tuaku untuk berbahagia, karena kebahagiaanku adalah kebahagiaan mereka. Dan betapa sedihnya orang tuaku nanti jika melihatku menangis, terlihat tidak bahagia. Jadi, aku menjalankan amanah orang tuaku, "berbahagialah". Caranya? aku mensyukuri apa yang diberi Allah kepadaku. Mensyukuri setiap hal kecil yang terjadi disekitarku. Kesyukuran inilah yang membuat ku bahagia. Dan jika aku menangis lagi, insyaallah itu hanya karena dan untuk mensyukuri  nikmat-Nya.


Bohong juga jika aku tidak homesick. Everybody who live far from home, pasti merasakan hal ini. Dan solusiku adalah STAY BUSY.. yesss,, Aku menjaga otakku untuk tetap sibuk, sehingga tidak ada ruang untuk menggalau atau bahkan untuk mengkhufuri nikmat Allah. stay busy.. terus berkarya, dimanapun aku berada. Karena ruang dan waku bukanlah halangan bagi rejeki untuk setiap istri yang mampu berdiri tegar di samping suaminya disetiap situasi.. insyaallah :)

Untuk setiap istri yang berani berkomitmen mendampingi suaminya dimanapun berada, yang kuat yaaaa.. Kalo kata mama mertuaku, insyaallah Khaiiirrrr :)

Jumat, 07 Desember 2012

Renungan di pojokan j.co



kurang lebih 5 hari aku dan suamiku di Pontianak, ibukota Kalimantan Barat. Namun suasana yang ku dapat jelas berbeda dengan Surabaya, kota kelahiranku. Disini begitu banyak kaum tionghoa dan melayu, jadi bahasa yang sering aku dengar adalah bahasa mandarin atau melayu. Suasana tionghoa bercampur melayu sangat kental. Sampai sering aku tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Pertokoan disini juga di dominasi dengan kaum tionghoa yang cas cis cus berbicara dengan bahasa mandarin.


Sekarang aku dan suamiku duduk dipojokan j.co dan berbincang. Tidak menyangka bahwa kami sudah melangkah sejauh ini (dalam arti sebenarnya). Seminggu setelah pernikahan kami langsung terbang jauh dari orang-orang terkasih (pergi ke Sanggau, 4-7 jam perjalanan darat dari pontianak) Kami "dipaksa" berdiri di atas kedua kaki kami sendiri. Membangun sebuah keluarga baru dengan cara kami sendiri. Kami "dipaksa" untuk mencari formula kebahagiaan kami sendiri. "dipaksa" untuk berdiri tegak di lingkungan yang begitu asing. Jauh dari sanak saudara, jauh dari teman, jauh dari sahabat.

Kami termenung, menatap nanar donat-donat yang menggiurkan itu. Sering kali berharap dapat menikmatinya dengan orang-orang yang kami sayangi, orang tua kami.
Kami sering berkata pada diri kami sendiri bahwa "penempatan di pedalaman" ini merupakan hal terbaik yang Allah berikan kepada kami. Khusnudzon kepada Allah adalah peneguh iman kami yang sering lemah. Tidak semua orang dapat diberi kesempatan untuk "berpetualang" di usia muda. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi besar sekaligus kuat dan mandiri karena tuntutan menjadi perantauan. Kami percaya, bahwa "dituntut" untuk hanya bergantung pada Allah dan diri sendiri akan menjadikan diri kami yang lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih tangguh. Bukan "anak mama" lagi, yang semua-semua di urus oleh mama atau pembantu di rumah. Bukan "anak papa" lagi, yang semua-semua masih minta kucuran dana dari papa. Bahkan bukan istri manja lagi yang semua-semua bergantung sama suami. Kami berdua secara bersamaan "dituntut" untuk menjadi pribadi yang tangguh, menjadi tim yang hebat saat bersama. Menjadi Imam yang sesuai dengan perintah-Nya dan makmum yang sesuai dengan ajaran-ajaran-Nya..

Namun, tidak dapat kupungkiri, ingin ku dan suamiku segera kembali ke tanah Jawa. Tempat dimana kami dapat lebih dekat dengan orang tua kami. Menemani mereka di masa tua. Iya, orang tua kami sudah tua, dan kami sadar, berada lebih dekat dan dapat berbakti dengan melayani mereka adalah kesempatan kami yang sangat berharga. Orang tua kami tidak akan ada selamanya, jadi kami sadar bahwa berada lebih dekat dengan mereka adalah saat-saat yang sangat dinantikan oleh mereka, juga kami..
Oleh karenanya, kami sering berdoa. Semoga limpahan rejeki bagi kami, selalu diturunkan oleh Allah di sekitar orang tua kami berada. Insyaallah :)

my precious :)

Selasa, 04 Desember 2012

Semua Keputusan Ada di Tangan Allah

Pagi ini aku bertemu dengan salah satu orang di kementrian keuangan. Dia sudah cukup umur dan sepertinya sudah menjabat di posisi strategis. Dia mendatangiku dan kami pun mulai berbincang, mungkin dia penasaran ada seorang wanita (cantik :p ) duduk sendiri di ruang tunggu. Iya, aku sedang menunggu suamiku untuk mengikuti sebuah tes yang di adakan oleh instansinya.

Aku dan beliau berbincang cukup lama. Beliau pun menanyakan banyak hal kepadaku. Seperti siapa nama suamiku, sudah berapa lama suamiku bekerja di kantor pajak, siapa aku, lulusan mana, orang mana dll.  Dia cukup kaget saat tahu aku lulusan S1 Unair, dia bilang betapa sayangnya potensiku kalau aku tetep berada di Sanggau. Tapi, dia juga cukup kagum dengan kemauanku untuk menetap menemani suamiku. Karena, kebanyakan istri dari bawahan maupun rekan kerjanya, lebih memilih tinggal di Pontianak ayau kembali ke tanah kelahiranya, istilahnya LDR gitu deh.
Beliau juga cukup kaget saat mengetahui suamiku yang masih tergolong pegawai baru dan terlalu singkat masa kerjanya di Sanggau mengikuti tes ini. Dengan nada yakin beliau bilang bahwa akan sangat sulit untuk suamiku lulus ujian ini, apalagi soal-soal tes nya juga sangat sulit. Hanya 30 orang dari ratusan bahkan ribuan pegawai kantor pajak di seluruh Indonesia yang dapat lolos. Dan tahun lalu, hanya 1 orang yang lolos dari Pontianak.
Aku jawab "Yah saya hanya bisa bantu doa untuk suami saya, semoga suami saya lulus", dan dia jawab "Semua orang di aula ini juga berdoa hal yang sama mbak, tidak mungkin semuanya luluskan?". Dan aku hanya tersenyum. :)

Sekarang suamiku sedang berusaha, dan aku disini, di ruang tunggu tidak berhenti berdoa. Dan hanya kepada Allah aku menyerahkan hasil keputusannya.. Insyaallah :)

Minggu, 02 Desember 2012

LDR - Long Distance Relationship

Somebody ever asked me about my "Long Distance Relationship". Pertanyaan wajar yang sering sekali dipertanyakan kepadaku. Karena saya ini adalah bukti hidup seseorang yang dapat melakukan "Long Distance Relatioship" yang kabarnya sulit itu.. Disini aku bakal bagi pertanyaan yang biasa ditanya, plus jawaban ku ya... read this dan resapilaaaahh.. :)

Question : "Mbak Devi kok isa sih LDR an?"
Answer : Aku terlalu sibuk dengan kehidupanku di Surabaya yang sangat penuh dengatanggung jawab. Sehingga, rasanya tidak ada waktu senggang untukku merasa "membutuhkan" seorang lelaki berada di dekatku. Dan aku merasa akan begitu repot dan riwehya hariku, kalau aku harus membagi hariku dengan lelaki yang selalu ingin diperhatikan. So, ingin sukses LDR-an? Be busy!!! Buat hari-harimu bermanfaat bagi terwujudnya mimpi-mimpimu.. Semakin nganggur kamu, semakin banyak ruang untuk dirimu menggalau tentang kekasihmu yang ada jauh disana..

Question : "Mas Iwa kok juga bisa ya LDR an? biasanya kan cowok tukang selingkuh?"
Jawaan seriusnya : Alhamdulillah, Iwa mentalya mental setia
Jawaan yang jauh lebih serius :
Alhamdulillah Iwa itu di jakarta untuk sekolah. Uang masih dikirimi sama mamanya. Hidup pas pas an. Mau selingkuh? sayangnya g ada daya dan upaya. Modal g ada. Cewek juga g ada yang mau di ajak keluyuran kalo hanya jalan kaki dan makan pisang goreng, satu dibagi dua. :)) *jadi laki yang punya uang, alias sudah mapan punya peluang lebih besar untuk selingkuh :))

Question: "kok bisa ya kalian berdua satu sama lain bertahan dengan LDR dan g pernah putus?"
Jawabanku yang biasanya : Dia bakal luar biasa menyesal kalo sampe niggalin aku. Karena, diluar sana, bakal banyak lelaki yang berebut untuk berada di sampingku, sebagai pasangan hidupku, makanya dia g mau mutusin aku :)) #congkak :)) 
Jawaban dalam hati : this relationship is just too precious to throw it to the recycle bin. and to be honest, aku melihat Iwa sebagai "investasi kehidupaku". Aku percaya, dia  hanya perlu aku asah sedikit di sana sini untuk dapat menunjukkan sinarnya. Somehow, aku bisa melihat dia akan menjadi Imam yang luar biasa bagiku nanti, makmumya. Tidak hanya dia yang aku lihat, tapi juga keluarganya. Aku melihat almarhum papanya, aku melihat mamanya. Keluarga seperti itu tidaklah mugkin mencetak seorang anak lelaki yang tidak bertanggugjawab. Aku percaya bahwa di setiap helaan nafasnya nanti, dia hanya akan memikirkan tentang bagaimana cara membuat pasangannya bahagia. And I wish that girl was me. That's why aku bertahan. That's why aku menghabiskan waktuku untuk berkembang bersamanya. berdua. Saling memperbaiki diri dan upgrade level keimanan, bersamanya.
Kalo Jawaban Iwa mah simple : "Aku sudah menunggu 3 tahun untuk menjadikannya kekasihku, dan  5 tahun untuk menjadikannya partner hidupku.. Penantian ini worth it, so, why Should I left her go?

For conclusion...

kalo aku sih, masalah LDR itu tinggal masalah "worth it to be wait for" apa enggak. 

"Trus, kalo sudah terlanjur jadian gima
na mbak?"..(eh, nanyak lagi..) 
Answer : Tinggal aja. Gampang. Toh ya kalo dibalikin lagi ke tuntunan kehidupan kita, Al quran, pacaran kan g ada di alquran. Pacaran itu manusianya sendiri yang bikin sebagai media untuk dapat saling mengenal. Kita ini perempuan punya hak untuk memilih. Jangan habiskan waktumu dan kemudian menggalau untuk lelaki yang tidak layak. Inget lho, Laki itu "Investasi Kehidupan" mu nanti. Gak mau kan terjebak dengan pria yang salah seumur hidupmu? 
Kebahagiaan rumah tanggamu nanti bergantung sama pintar pintar nya kamu memilih sekarang. you're just too young to stuck with one person who don't deserve your time for waiting. Jika kamu sadar lelaki itu Gak worth it, segera bilang "assalamualaikum" lambaikan tangan, lalu balik kanan dengan senyuman.

Conclusion beneran ya sekarang..

Untuk teman teman yang sedang LDR, berbahagialah. 
bukannya apa ya teman, berpacaran itu mungkin g ada yanngelarang, tapi apa yang bisa terjadi dalam hubugan berpacaran yang terlalu intens itu lho yang dilarang. Temen temen, terutama yang perempuan, hati hati ya, selalu inget sama semua nilai yang sudah di ajarkan oleh orang tua kita sejak kecil. Selalu ingat bahwa apa yang di ajarkan oleh Al quran itu tidak pernah jadul ataupun kuno. Pegangan tangan aja g boleh lho teman, apalagi berpelukan dengan yang bukan muhrim.. Mau peluk peluk an, cium cium an, pegang pegangan tangan, bakal ada saatnya nanti. tenang..sabarrr.. nikmati saja masa masamu menjadi muslimah yang aktif sekarang. banggakan kedua orang tua dengan prestasi :)
Mugkin aku bakal terkesan seperti orang tua saat  berbicara seperti ini, but you can't deny that what I told is damn true! :D

Aku juga dulu pacaran, pegang pegangan tangan, peluk pelukan,lalu di foto trus di pajang di DP (hadeuh,jahiliyah), dan sekarang saat aku sudah menikah, aku cukup malu kalo ingat ingat. Lhah ngapain toh melakukan apa yang di benci sama Allah untuk "keinginan" saat itu, padahal nanti saat sudah halal, semuaya akan berjalan dengan jauh lebih indah. 
Aku cukup bersyukur aku dulu LDR, mungkin Allah sayang sama aku da Iwa. Karena banyak hal bisa terjadi kalau 2 orang yang bukan muhrimnya berduaan. Aku dan Iwa hanyalah manusia biasa, yang jika terlalu lama dekat dengan intens, semua hal yang dilarang sama Allah bisa bisa menjadi "biasa" saja karena dengan dalih semua orang juga melakukan.. (masyaallah >.<)

Balik lagi, Untuk yang LDR, jaga hubungan dengan komunikasi yang baik dan kepercayaan. Dan pastikan dia yang disana memang layak untuk ditunggu. Jangan berlama lama galau karena semua akan indah pada waktunya.. Insyaallah :)

Senin, 19 November 2012

Semua butuh proses



Kehidupan pernikahan adalah penyatuan dua kepribadian yang berbeda. Lima tahun kami berpacaran jarak jauh (LDR.red) . Tidak pernah ada masalah yang berarti. Tidak pernah ada pertengkaran yang berarti. Percaya atau tidak, 5 tahun menjalin hubungan, tidak sekalipun kami putus. Semua baik-baik saja. Mengingat aku dan Iwa adalah dua orang yang tidak pandai bertengkar. Tidak pandai marah juga.. hahaaa.. (bertegkar itu butuh kepadaia lhooo, g semua org bisa.. :)) )
begitu kami akhirnya menikah, aku menjadi banyak menuntut. Menuntutnya untuk segera menjadi sosok Imam yang aku inginkan. Seperti, 1. Tidak pernah meninggalkan sholat. 2. Saat di rumah selalu mengajakku untuk sholat berjamaah. 3. Tidak terlalu sering bermain game, sehingga dia dapat duduk disebelahku sambil menonton TV atau sekedar berbincang. 4. berbagi urusan rumah tangga. Selalu menjaga kebersiha rumah  dll.

Sering kali aku marah dengan segala sikapmu yang terkadang kurang memuaskan aku.
Terlalu cuek, terlalu mudah panik, terlalu ceroboh, terlalu ini dan terlalu itu.

Sampai saat dimana aku terduduk sendiri di beranda rumah, memperhatikan pepohonan yang berisik itu.
Aku merenungkan semuanya.

Aku menyesali caraku kecewa akan kekuranganmu. 
Aku menyesal karena aku teringat betapa sabarnya kamu menungguku belajar mengikis kekuranganku, sedangkan aku begitu tidak sabaran menuggumu mengikis kekuranganmu.
Aku tersentak malu dengan semua caraku mengingatkanmu, yang mungkin dapat membuatmu sakit hati.
Padahal tidak sekalipun kamu mengeluhkan kekuranganku, mungkin kamu sedang menjaga hatiku agar tidak terluka.
Aku yang terlalu gegabah, tergesa-gesa, mudah marah, terlalu sensitif, terlalu ini dan terlalu itu.
Tidak pernah aku mendengarmu mengeluhkannya.. T-T


Harusnya aku sadar bahwa aku dan kamu sama-sama dalam taraf belajar. 
belajar menjadi imam serta makmum yang baik.

Harusnya aku lebih memilih kata-kata dan cara yang jauuuuuh lebih baik dalam proses pembelajaran ini.
Mungkin aku sering lupa bahwa kamu juga punya hati untuk dijaga, seperti juga aku.
Maafkan aku..

Semakin perih rasa hati ini, saat aku teringat, aku sudah terlalu sering mengingatkanmu dengan caraku yang kurang baik itu,
kamu masih dapat kembali padaku dengan tatapan penuh sesal karena telah mengecewakanku, lalu meminta maaf.
Kamu tetap kembali padaku dan tetap dengan riang belajar menjadi imam yang lebih baik, tanpa mengeluh.
bahkan kamu tidak pernah sungkan bertanya tentang apa lagi yang harus kamu lakukan.
Iya, kamu lakukan dengan suka cita, dan tidak lupa tetap mengisi hari-hariku dengan cadaanmu..
Teringat dirimu yang tidak pernah mengeluh ini, aku malu :(

Aku tersadar, semua hal butuh proses. Tidak bisa aku menjadi apa yang aku inginkan hanya dalam sekejap mata tanpa adanya proses pembelajaran, begitu juga dengan suamiku.

Aku yang selalu merasa lebih dewasa ketimbang dirimu, merasa malu.
Ternyata akulah yang kurang dewasa karena kurang dapat mengendalikan emosiku.
Aku akabelajar, menjadi makmum yang lebih baik untukmu ya suamiku.. :)
Aku aka
n tetap mengingatkanmu dengan cara yang lebih baik ya suamiku.
Ingatkan aku juga dengan cara yang baik ya suamiku.
Tidak pernah lelah belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik ya suamiku.. :)