kurang lebih 5 hari aku dan suamiku di Pontianak, ibukota Kalimantan Barat. Namun suasana yang ku dapat jelas berbeda dengan Surabaya, kota kelahiranku. Disini begitu banyak kaum tionghoa dan melayu, jadi bahasa yang sering aku dengar adalah bahasa mandarin atau melayu. Suasana tionghoa bercampur melayu sangat kental. Sampai sering aku tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Pertokoan disini juga di dominasi dengan kaum tionghoa yang cas cis cus berbicara dengan bahasa mandarin.
Sekarang aku dan suamiku duduk dipojokan j.co dan berbincang. Tidak menyangka bahwa kami sudah melangkah sejauh ini (dalam arti sebenarnya). Seminggu setelah pernikahan kami langsung terbang jauh dari orang-orang terkasih (pergi ke Sanggau, 4-7 jam perjalanan darat dari pontianak) Kami "dipaksa" berdiri di atas kedua kaki kami sendiri. Membangun sebuah keluarga baru dengan cara kami sendiri. Kami "dipaksa" untuk mencari formula kebahagiaan kami sendiri. "dipaksa" untuk berdiri tegak di lingkungan yang begitu asing. Jauh dari sanak saudara, jauh dari teman, jauh dari sahabat.
Kami termenung, menatap nanar donat-donat yang menggiurkan itu. Sering kali berharap dapat menikmatinya dengan orang-orang yang kami sayangi, orang tua kami.
Kami sering berkata pada diri kami sendiri bahwa "penempatan di pedalaman" ini merupakan hal terbaik yang Allah berikan kepada kami. Khusnudzon kepada Allah adalah peneguh iman kami yang sering lemah. Tidak semua orang dapat diberi kesempatan untuk "berpetualang" di usia muda. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi besar sekaligus kuat dan mandiri karena tuntutan menjadi perantauan. Kami percaya, bahwa "dituntut" untuk hanya bergantung pada Allah dan diri sendiri akan menjadikan diri kami yang lebih baik. Menjadi pribadi yang lebih tangguh. Bukan "anak mama" lagi, yang semua-semua di urus oleh mama atau pembantu di rumah. Bukan "anak papa" lagi, yang semua-semua masih minta kucuran dana dari papa. Bahkan bukan istri manja lagi yang semua-semua bergantung sama suami. Kami berdua secara bersamaan "dituntut" untuk menjadi pribadi yang tangguh, menjadi tim yang hebat saat bersama. Menjadi Imam yang sesuai dengan perintah-Nya dan makmum yang sesuai dengan ajaran-ajaran-Nya..
Namun, tidak dapat kupungkiri, ingin ku dan suamiku segera kembali ke tanah Jawa. Tempat dimana kami dapat lebih dekat dengan orang tua kami. Menemani mereka di masa tua. Iya, orang tua kami sudah tua, dan kami sadar, berada lebih dekat dan dapat berbakti dengan melayani mereka adalah kesempatan kami yang sangat berharga. Orang tua kami tidak akan ada selamanya, jadi kami sadar bahwa berada lebih dekat dengan mereka adalah saat-saat yang sangat dinantikan oleh mereka, juga kami..
Oleh karenanya, kami sering berdoa. Semoga limpahan rejeki bagi kami, selalu diturunkan oleh Allah di sekitar orang tua kami berada. Insyaallah :)
| my precious :) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar