Minggu, 09 Desember 2012

Menemani Suami di Rantau

Pagi ini ada seorang teman yang bertanya padaku..

"Dev, apa kamu pernah menangis saat merantau menemani suamimu? Karena aku sering menangis sekarang, saat ikut suamiku merantau di Jakarta"
"Dev, kok aku liat kamu seneng terus ya? gak pernah homesick?"

Ini jawabanku...

Bohong kalau aku bilang aku tidak pernah menangis. Alasanku menangis adalah karena keadaanku sekarang. Tinggal di pedalaman, jauh dari kesibukan yang biasa aku lalui di Surabaya. Disini juga "sepi" kesempatan, baik itu berdagang, bekerja, berorganisasi maupun bersosialisasi. Jika ingin bekerja   yang sesuai dengan pendidikanku, aku harus menyeberangi sungai kemudian melewati hutan sawit beberapa jam untuk mencapai kantor. Malam hari minim lampu, yang itu artinya tidak mungkin aku pulang ke rumah setelah bekerja, yang itu artinya aku harus memilih tinggal di mess, terpisah dari suamiku, dan itu jelas bukan pilihan yang akan aku ambil. So, Iya aku menangis karena merasa begitu tidak berdaya.

Tapi kemudian aku mengingatkan diriku bahwa menikah lalu menemani suamiadalah pilihanku. Oleh karenanya aku harus komit terhadap setiap pilihan yang sudah aku buat. Alih-alih menangis aku memikirkan solusi. Tidak mungkin Allah menempatkanku di posisiku saat ini tanpa adanya alasan untuk membesarkanku. Dan aku begitu yakin bahwa rejeki ku akan dilimpahkan oleh Allah di mana suamiku berada. Selama aku dekat dan berada di manapun suamiku berada, aku percaya disitulah Allah melimpahkan rejekiku, rejeki kami. bukankah rejeki Allah itu tersebar di seluruh penjuru bumi? Why I should be worry??

Bohong jika aku katakan bahwa aku tidak pernah menangis. Tapi aku selalu ingat pesan orang tuaku untuk berbahagia, karena kebahagiaanku adalah kebahagiaan mereka. Dan betapa sedihnya orang tuaku nanti jika melihatku menangis, terlihat tidak bahagia. Jadi, aku menjalankan amanah orang tuaku, "berbahagialah". Caranya? aku mensyukuri apa yang diberi Allah kepadaku. Mensyukuri setiap hal kecil yang terjadi disekitarku. Kesyukuran inilah yang membuat ku bahagia. Dan jika aku menangis lagi, insyaallah itu hanya karena dan untuk mensyukuri  nikmat-Nya.


Bohong juga jika aku tidak homesick. Everybody who live far from home, pasti merasakan hal ini. Dan solusiku adalah STAY BUSY.. yesss,, Aku menjaga otakku untuk tetap sibuk, sehingga tidak ada ruang untuk menggalau atau bahkan untuk mengkhufuri nikmat Allah. stay busy.. terus berkarya, dimanapun aku berada. Karena ruang dan waku bukanlah halangan bagi rejeki untuk setiap istri yang mampu berdiri tegar di samping suaminya disetiap situasi.. insyaallah :)

Untuk setiap istri yang berani berkomitmen mendampingi suaminya dimanapun berada, yang kuat yaaaa.. Kalo kata mama mertuaku, insyaallah Khaiiirrrr :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar