Kehidupan pernikahan adalah penyatuan dua kepribadian yang berbeda. Lima tahun kami berpacaran jarak jauh (LDR.red) . Tidak pernah ada masalah yang berarti. Tidak pernah ada pertengkaran yang berarti. Percaya atau tidak, 5 tahun menjalin hubungan, tidak sekalipun kami putus. Semua baik-baik saja. Mengingat aku dan Iwa adalah dua orang yang tidak pandai bertengkar. Tidak pandai marah juga.. hahaaa.. (bertegkar itu butuh kepadaia lhooo, g semua org bisa.. :)) )
begitu kami akhirnya menikah, aku menjadi banyak menuntut. Menuntutnya untuk segera menjadi sosok Imam yang aku inginkan. Seperti, 1. Tidak pernah meninggalkan sholat. 2. Saat di rumah selalu mengajakku untuk sholat berjamaah. 3. Tidak terlalu sering bermain game, sehingga dia dapat duduk disebelahku sambil menonton TV atau sekedar berbincang. 4. berbagi urusan rumah tangga. Selalu menjaga kebersiha rumah dll.
Sering kali aku marah dengan segala sikapmu yang terkadang kurang memuaskan aku.
Terlalu cuek, terlalu mudah panik, terlalu ceroboh, terlalu ini dan terlalu itu.
Sampai saat dimana aku terduduk sendiri di beranda rumah, memperhatikan pepohonan yang berisik itu.
Aku merenungkan semuanya.
Aku menyesali caraku kecewa akan kekuranganmu.
Aku menyesal karena aku teringat betapa sabarnya kamu menungguku belajar mengikis kekuranganku, sedangkan aku begitu tidak sabaran menuggumu mengikis kekuranganmu.
Aku tersentak malu dengan semua caraku mengingatkanmu, yang mungkin dapat membuatmu sakit hati.
Padahal tidak sekalipun kamu mengeluhkan kekuranganku, mungkin kamu sedang menjaga hatiku agar tidak terluka.
Aku yang terlalu gegabah, tergesa-gesa, mudah marah, terlalu sensitif, terlalu ini dan terlalu itu.
Tidak pernah aku mendengarmu mengeluhkannya.. T-T
Harusnya aku sadar bahwa aku dan kamu sama-sama dalam taraf belajar.
belajar menjadi imam serta makmum yang baik.
Harusnya aku lebih memilih kata-kata dan cara yang jauuuuuh lebih baik dalam proses pembelajaran ini.
Mungkin aku sering lupa bahwa kamu juga punya hati untuk dijaga, seperti juga aku.
Maafkan aku..
Semakin perih rasa hati ini, saat aku teringat, aku sudah terlalu sering mengingatkanmu dengan caraku yang kurang baik itu,
kamu masih dapat kembali padaku dengan tatapan penuh sesal karena telah mengecewakanku, lalu meminta maaf.
Kamu tetap kembali padaku dan tetap dengan riang belajar menjadi imam yang lebih baik, tanpa mengeluh.
bahkan kamu tidak pernah sungkan bertanya tentang apa lagi yang harus kamu lakukan.
Iya, kamu lakukan dengan suka cita, dan tidak lupa tetap mengisi hari-hariku dengan cadaanmu..
Teringat dirimu yang tidak pernah mengeluh ini, aku malu :(
Aku tersadar, semua hal butuh proses. Tidak bisa aku menjadi apa yang aku inginkan hanya dalam sekejap mata tanpa adanya proses pembelajaran, begitu juga dengan suamiku.
Aku yang selalu merasa lebih dewasa ketimbang dirimu, merasa malu.
Ternyata akulah yang kurang dewasa karena kurang dapat mengendalikan emosiku.
Aku akan belajar, menjadi makmum yang lebih baik untukmu ya suamiku.. :)
Aku akan tetap mengingatkanmu dengan cara yang lebih baik ya suamiku.
Aku akan tetap mengingatkanmu dengan cara yang lebih baik ya suamiku.
Ingatkan aku juga dengan cara yang baik ya suamiku.
Tidak pernah lelah belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik ya suamiku.. :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar