Dulu waktu di Surabaya, hampir setiap hari aku bertemu dengan keluargaku. Berbincang, menceritakan segala hal. Salah satunya adalah tentang keinginanku untuk merantau. Iya, dulu aku sangat ingin merantau, untuk menemukan jati diri. Di Surabaya, semua hal sudah "cepak" (siap.red). Aku mungkin begitu mandiri di luar sana. Mengikuti banyak sekali kegiatan. Menjadi ketua di acar ini dan itu. Bertemu dan dealing dengan berbagai macam orang. Bisa melakukan ini dan bisa melakukan itu.. Tapi, sebenarnya, itu semua karena Mama ku yang sudah menyiapkan segala kebutuhanku. Katakanlah, aku tinggal berangkat.. cuuusssss..
Let me try to explain what I mean...
- Ke dapur?? kalo mau ambil makanan di kulkas aja.
- Cuci Baju? bahkan aku g pernah menyentuh mesin cuci. Mungkin kalau ada yang tanya bagaimana menggunakan mesin cuci, aku hanya tertawa, karena sekalipun aku tidak pernah menggunakannya.
- Cuci piring? waktu lebaran aja kali yaaaa,, bantuin mama.
- Nyapu rumah?? kalau ayah mulai mengomel, barulah aku menyapu rumah.
- Ngepel? Ya ga pernah lah,, mimpi apa coba aku nge-pel rumah -.-a.
- Masak? lhah, ke dapur aja jarang. Aku bahkan tidak mengenal bumbu dapur. Cooking is not my thing. Yah, mungkin aku sama dengan banyan wanita in my age, di angkatanku, yang merasa tidak bisa masak itu wajar. Yang merasa nantinya lebih baik berkarir dan bayar pembantu. lalalaaaaaa..
Intinya, aku hanya fokus sama kegiatanku diluar sana, dan tidak peduli dengan urusan rumah tangga. Aku tutup mata, telinga dan mulut ku tentang segala urusan rumah tangga ini..
Sampai akhirnya aku benar-benar merantau. Dimana aku dipaksa untuk mandiri. Dipaksa untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Plus dengan title baru, istri. Yes, being a wife. Jadi, selain aku harus mandiri dan mengurus diriku sendiri tanpa bantuan mama, aku juga "dipaksa" juga untuk mengurus suamiku sendiri. Awalnya, suamiku menawariku untuk mengerjakan seorang pembantu. Tapi, baru tinggal sebentar di tanah orang dan membiarkan diri kami tinggal satu rumah dengan orang asing, membuat ku berpikir ulang dan akhirnya menolak tawaran itu. Selain itu, ada sebuah ego dalam diriku yang mengatakan "ah, masa' iya aku g bisa ngurusin urusan rumah tangga sih.."
Dan jadilah ini titik balikku. Yang tadinya bangun tidur sarapan sudah siap, rumah sudah bersih, berbeda dengan sekarang. Sekarang aku harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan untukku dan suamiku. Kemudian menyiapak pakaian suamiku untuk bekerja. Membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju, menyapu rumah lalu belanja di tukang sayur kemudian memasaknya. "Keterpaksaan" untuk bisa memasak membuat aku benar-benar secara serius mempelajarinya. Mengenali bumbu-bumbu dapur. Selain mengingat masakan apa saja yang di ajarkan oleh mamaku, aku juga menjadi lebih rajin searching video memasak di youtube.
Beberapa hari pertama menjalani kemandirian ini, begitu berrraaattt.. Aku yang biasanya susah untuk bangun pagi, sekarang berusaha untuk bangun lebih pagi untuk menyiapkan segala sesuatunya, tanpa bantuan siapapun. Memasak, mencuci baju , setrika baju, mencuci piring, menyapu dan selalu menjaga agar rumah tetap bersih, tidak semudah kelihatannya. CAPEK nya luaaarrr biasaaa.. Maybe, I prefer to work dan atau disibukkan dengan seabrek kegiatan keorganisasianku. Tapi, aku tidak akan menyerah, aku masih berusaha untuk menemukan ritme nya.. Ini tentang merubah habit, so I need time, and I assure you, waktu yang aku butuhkan untuk menemukan ritme untuk tetap produktif, tidak membutuhkan waktu yang lama :) (yah.. inilah aku, walaupun anak mama, aku selalu punya jiwa fighting yang tinggi dan keyakinan yang luar biasa akan diriku sendiri.. heheheee :p ..)
Selain itu, aku mulai mengurusi keuangan rumah tangga. Karena sejak menikah, semua keuangan di serahkan kepadaku. Mulai dari membuat buku besar keuangan rumah tangga kami. Melakukan budgeting di awal bulan, dan mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran di bulan berjalan. Mengurusi tabungan, investasi, dan lain sebagainya. Iya, aku dan Iwa sadar, bahwa menabung dan pandai berinvestasi adalah hal yang penting. Jadi, aku mulai mengatur semuanya.
Dirumah, aku mulai juga untuk membangun bisnisku. Iyes, berbisnis bukan bekerja. Build my own company, not being another person's employee. Hal ini aku putuskan karena juga suamiku kurang setuju jika aku bekerja. Dia sangat mengerti potensiku untuk berbisnis. Terlalu kreatif dan terlalu sayang untuk jadi bawahan, katanya. Walaupun aku masih ingin mencoba bekerja, akhirnya aku menuruti keinginan suamiku. Karena memang menjadi istri pegawai pajak yang dapat sewaktu-waktu di mutasi kemana saja, menjadi pegawai tetap bagiku bukanlah hal yang baik. Sedangkan, jika aku dapat membangun bisnis ku menjadi lebih besar, aku bisa tetap mengurusi suamiku dan seluruh tanggung jawab rumah tangga selagi menjalani bisnisku. Because i'll be a boss for my own self.
Aku selalu percaya untuk memulai berbisnis sesuai dengan hobi yang aku sukai. Mengerjakan hal yang aku sukai setiap hari, akan membuat diriku enjoy dan terasa seperti tidak benar-benar bekerja. Dan sekarang aku sedang membangunnya. Membangun bisnisku sendiri. Dengan dukungan dan restu dari imamku, suamiku, insyaallah rejeki akan menjadi berkah :)
Here I'm now, anak manja yang merantau. Berjuang demi kehidupan yang lebih baik , untukku dan suamiku. Berusaha dan tidak lelah untuk berdoa, untukku dan suamiku..