Senin, 29 Oktober 2012

Timbunan Kenangan

Pagi ini aku melihat foto-foto jaman kuliah ku bersama suhara dan coeyoet. 
Tidak menyangka, aku bisa begitu terharu sampai hampir menangis saat melihat foto-foto ini. 
Mendadak aku langsung teringat dengan hari-hari yang aku lalui bersama mereka saat aku kuliah dulu. Sekarang aku tahu, bahwa setiap hari yang aku buat adalah hari dimana aku menimbun kenangan. 
Kenangan indah bersama teman-teman tercinta.
Kami pernah mengalami masa-masa sulit. Bertengkar, saling menghindar, saling membenci. 
Kami juga pernah tidak saling bertegur sapa.
Bahkan kami sempat mengira bahwa tidak akan lagi berteman.

Kami berhasil melaluinya. Walaupun penuh "drama" di dalamnya.. hahaha :))
Luar biasanya, saat sekarang kami terpisah oleh jarak dan waktu, rasa kangen itu membuncah begitu besar.
Mengingat sejauh apapun aku merantau bersama suamiku, hati ku begitu nyaman.
Kenyamanan ini ada karena aku merasa di seberang sana ada yang menungguku, menyayangiku.
Diseberang sana ada yang tidak sabar bertemu dan bersenda gurau denganku lagi.
Harta berharga yang harus kami jaga sampai kami tua nanti.
PERSAHABATAN










Krengsengan Daging Sapi - ala Devi Yanuari

Aku tidak pernah mengolah daging sebelumnya, jadi saat ternyata masjid dekat rumah membagikan daging sapi ke seluruh warga, aku langsung menelpon mama untuk bertanya apa yang harus aku lakukan dengan daging-daging ini.. hahahaaaa :)) Karena mama bilang dibuat saja seperti aku membuat ayam kecap, jadilah aku langsung mengolah daging sapi persis seperti aku mengolah ayam kecap.. Jadi, ya langsung aku punya bayangan, gimana caranya mengolah daging.. Thank you mama!

Here we go.. ^.^


Bahan :
1. Daging Sapi
2. Bawang Merah
3. Bawang Putih
4. Jahe
5. Kunir
6. Lombok merah besar
7. Lombok merah kecil
8. Kecap
9. Gula
10. Garam
11. Tomat

Cara Membuat :

A. Daging
1. Bersihkan daging, buang lemak-lemak putihnya dengan bantuan pisau
2. Potong daging kecil-kecil (sesuai selera)
3. Pukul-pukul pelan daging agar lebih mudah empuk
4. Didihkan daging di dalam air, agar semua lemak keluar
5. Buang semua air

B. Bumbu
1. Haluskan bawang merah, bawang putih, jahe, kunir, lombok merah besar, lombok merah kecil, tomat dan garam
2. Gongso (di goreng dengan minyak sedikit) semua bumbu yang telah dihaluskan

C. Disatukan
1. Campurkan Daging yang telah direbus dengan bumbu yang telah di gongso di atas wajan.
2. Tambahkan kecap. gula dan garam.
3. Beri 3-4 gelas air, lalu tutup wajan.
4. Tunggu sampai air surut, kurang lebih 2-3 jam.
5. Periksa dengan garpu, apakah daging sudah empuk.
6. Waaallllaaaaa!!! Done!! Sajikan dengan nasi panas.. yuummmmyy!!!! HAHAHAHAAAAAAA....!!!


Kamis, 25 Oktober 2012

Sholat Idul Adha itu Jam Berapa yaaaa...???

Sholat Idul Adha pertama kami sebagai suami istri, di tanah rantau pulaaaa... dududuuuuu...

Jam setengah 5 pagi kami sudah bangun, dengan susah payah, leyeh-leyeh dulu, siap-siap, semua kegiatan dilakukan secara slow motion.. Mata rasanya lengkeeettt... Tahun lalu, masih ada mamaku yang sedari jam 4 shubuh ngobrak-ngobrak seisi rumah untuk bangun dan siap-siap.. Tahun ini hanya ada aku dan Iwa.. huhuhuuu..  Eh,kok ya tiba-tiba sudah jam  05.30 aja! Gupuuuuhh, karena kami tidak mau terlambat! Mendadak kami berubah jadi the flash! serba cepet :)).. Mamaku juga menelpon, memastikan kami sudah bangun dan menyuruh kami segera berangkat ke tempat sholat id, SEGERA. Di rumahku, Wage-Surabaya, sholat id sudah dimulai sejak jam 05.30. Jadi, kami segera berangkat, tergesa-gesa, takut terlambat. 

Saat keluar dari rumah, entah kenapa sudah tidak terdengar suara takbir. Aku jadi bingung, karena biasanya, suara takbir tidak akan selesai berkumandang sebelum sholat id di mulai. Kalau suara takbir berakhir, bukankah artinya sholat id sudah dimulai?!?!?! mampuuss :((  Aku dan Iwa jadi takut dan tertawa kecut, saling pandang dan terucap "Kalo ternyata kita sudah telat sholat id nya gimana??" kata Iwa, takut. "Ya kita cek dulu, kalo telat kita langsung pulang, hiks T-T" jawabku, nyesek. Gak kebayang malunya telat sholat id dan akhirnya balik kucing. Apalagi, sesal yang luar biasa kalau kami sampai tidak mengikuti sholat idul adha.. T-T

Oke, kami mulai berangkat menuju masjid agung. Sepanjang perjalanan, SEPI! benar-benar tidak ada tanda-tanda orang menuju masjid. Tadinya, kami berpikir kami benar-benar terlambat, tapi, kalau memang sholat id sudah selesai, kenapa tidak ada tanda-tanda orang bertebaran pulang dari masjid? Hmmmm.. kami jadi ragu, sebenarnya sholat Idul Adha itu kapan? Jam berapa? Dimana?? Apa kalau di Sanggau ada tempat khusus untuk sholat? Jadi, tidak semua masjid ada sholat idul adha??? hadeeeeuuuuhhh... tuluuunng..

alhasil, kami memutuskan untuk pulang dulu, daripada muter-muter ga jelas di jalanan yang super sepi ini. -.-a

Sesampainya di rumah, kami mendengar masih ada kumandang takbir dari kejauhan. Yah, mungkin tadi mereka hanya istirahat sejenak.  Alhamdulillah, berarti kami tidak terlambat, tapi malah mungkin KEPAGIAN, kikukikukikukk.. So, kami putuskan untuk menunggu 15 menit laaahh.. Sudah tepat jam 6, kami akhirnya berangkat menuju masjid. Masih sepi juga -.-a kriiikk..kriiikk... Tapi, karena sudah ada beberapa panitia yang berbenah, kami memutuskan untuk masuk sajalah yaaaa.. Aneh juga kalo kita bolak-balik masjid-rumah, cuman celingak-celinguk tapi g masuk-masuk -.-a

Sampai di dalam masjid, hanya ada 2-3 orang yang mengumandangkan takbir dan seorang nenek tua di shaf wanita. Aku memilih duduk disampingnya, menyalaminya dan bertanya "nek, sholat id nya jam berapa ya?", "jam 7 mbak" jawabnya singkat.. Heeeeyyyyaaaaaa... Zzzzzzz...

Di Surabaya, Sholat Id biasanya jam set 6 atau jam 6 pagi boooooo'! Kalo di rumah, jam 5 pagi kami sudah siap berangkat. Lhadalah kok ya di Sanggau itu namanya sholat Id itu jam 7!! >.< mmmaaaaakkk..  Orang-orang baru dateng mepet-mepet jam 7. akhirnya aku dan Iwa ikutan takbiran di masjid dari jam 6 sampe jam 7. Haaaiiissshhh.. Pantes aja waktu kami masuk masjid, panitia pada ngeliatin..Mungkin batin  mereka  "kepagiaaann woooyyy!!".. Batinku "kesiangaaaan cuuuyy!!" -______-


Iwa dan Devi mengucapkan, Selamat Idul Adha.. Mohon Maaf Lahir dan Batin ya.. Loving you all :*


Ketupat, Opor Ayam, Rendang dari Bu Abu, tetangga yang baik hati.. Ennnaaaakkkk!! nyummy!!

Selasa, 23 Oktober 2012

Anak Manja yang Merantau

Dulu waktu di Surabaya, hampir setiap hari aku bertemu dengan keluargaku. Berbincang, menceritakan segala hal. Salah satunya adalah tentang keinginanku untuk merantau. Iya, dulu aku sangat ingin merantau, untuk menemukan jati diri. Di Surabaya, semua hal sudah "cepak" (siap.red). Aku mungkin begitu mandiri di luar sana. Mengikuti banyak sekali kegiatan. Menjadi ketua di acar ini dan itu. Bertemu dan dealing dengan berbagai macam orang. Bisa melakukan ini dan bisa melakukan itu.. Tapi, sebenarnya, itu semua karena Mama ku yang sudah menyiapkan segala kebutuhanku. Katakanlah, aku tinggal berangkat.. cuuusssss.. 

Let me try to explain what I mean...

  • Ke dapur?? kalo mau ambil makanan di kulkas aja. 
  • Cuci Baju? bahkan aku g pernah menyentuh mesin cuci. Mungkin kalau ada yang tanya bagaimana menggunakan mesin cuci, aku hanya tertawa, karena sekalipun aku tidak pernah menggunakannya. 
  • Cuci piring? waktu lebaran aja kali yaaaa,, bantuin mama. 
  • Nyapu rumah?? kalau ayah mulai mengomel, barulah aku menyapu rumah.
  • Ngepel? Ya ga pernah lah,, mimpi apa coba aku nge-pel rumah -.-a.
  • Masak? lhah, ke dapur aja jarang. Aku bahkan tidak mengenal bumbu dapur. Cooking is not my thing. Yah, mungkin aku sama dengan banyan wanita in my age, di angkatanku, yang merasa tidak bisa masak itu wajar. Yang merasa nantinya lebih baik berkarir dan bayar pembantu. lalalaaaaaa..
Intinya, aku hanya fokus sama kegiatanku diluar sana, dan tidak peduli dengan urusan rumah tangga. Aku tutup mata, telinga dan mulut ku tentang segala urusan rumah tangga ini..

Sampai akhirnya aku benar-benar merantau. Dimana aku dipaksa untuk mandiri. Dipaksa untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Plus dengan title baru, istri. Yes, being a wife. Jadi, selain aku harus mandiri dan mengurus diriku sendiri tanpa bantuan mama, aku juga "dipaksa" juga untuk mengurus suamiku sendiri. Awalnya, suamiku menawariku untuk mengerjakan seorang pembantu. Tapi, baru tinggal sebentar di tanah orang dan membiarkan diri kami tinggal satu rumah dengan orang asing, membuat ku berpikir ulang dan akhirnya menolak tawaran itu. Selain itu, ada sebuah ego dalam diriku yang mengatakan "ah, masa' iya aku g bisa ngurusin urusan rumah tangga sih.."

Dan jadilah ini titik balikku. Yang tadinya bangun tidur sarapan sudah siap, rumah sudah bersih, berbeda dengan sekarang. Sekarang aku harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan untukku dan suamiku. Kemudian menyiapak pakaian suamiku untuk bekerja. Membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju, menyapu rumah lalu belanja di tukang sayur kemudian memasaknya. "Keterpaksaan" untuk bisa memasak membuat aku benar-benar secara serius mempelajarinya. Mengenali bumbu-bumbu dapur. Selain mengingat masakan apa saja yang di ajarkan oleh mamaku, aku juga menjadi lebih rajin searching video memasak di youtube. 

Beberapa hari pertama menjalani kemandirian ini, begitu berrraaattt.. Aku yang biasanya susah untuk bangun pagi, sekarang berusaha untuk bangun lebih pagi untuk menyiapkan segala sesuatunya, tanpa bantuan siapapun. Memasak, mencuci baju , setrika baju, mencuci piring, menyapu dan selalu menjaga agar rumah tetap bersih, tidak semudah kelihatannya. CAPEK nya luaaarrr biasaaa.. Maybe, I prefer to work dan atau disibukkan dengan seabrek kegiatan keorganisasianku. Tapi, aku tidak akan menyerah, aku masih berusaha untuk menemukan ritme nya.. Ini tentang merubah habit, so I need time, and I assure you, waktu yang aku butuhkan untuk menemukan ritme untuk tetap produktif, tidak membutuhkan waktu yang lama :) (yah.. inilah aku, walaupun anak mama, aku selalu punya jiwa fighting yang tinggi dan keyakinan yang luar biasa akan diriku sendiri.. heheheee :p ..)

Selain itu, aku mulai mengurusi keuangan rumah tangga. Karena sejak menikah, semua keuangan di serahkan kepadaku. Mulai dari membuat buku besar keuangan rumah tangga kami. Melakukan budgeting di awal bulan, dan mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran di bulan berjalan. Mengurusi tabungan, investasi, dan lain sebagainya. Iya, aku dan Iwa sadar, bahwa menabung dan pandai berinvestasi adalah hal yang penting. Jadi, aku mulai mengatur semuanya.

Dirumah, aku mulai juga untuk membangun bisnisku. Iyes, berbisnis bukan bekerja. Build my own company, not being another person's employee. Hal ini aku putuskan karena juga suamiku kurang setuju jika aku bekerja. Dia sangat mengerti potensiku untuk berbisnis. Terlalu kreatif dan terlalu sayang untuk jadi bawahan, katanya. Walaupun aku masih ingin mencoba bekerja, akhirnya aku menuruti keinginan suamiku. Karena memang menjadi istri pegawai pajak yang dapat sewaktu-waktu di mutasi kemana saja, menjadi pegawai tetap bagiku bukanlah hal yang baik. Sedangkan, jika aku dapat membangun bisnis ku menjadi lebih besar, aku bisa tetap mengurusi suamiku dan seluruh tanggung jawab rumah tangga selagi menjalani bisnisku. Because i'll be a boss for my own self.

Aku selalu percaya untuk memulai berbisnis sesuai dengan hobi yang aku sukai. Mengerjakan hal yang aku sukai setiap hari, akan membuat diriku enjoy dan terasa seperti tidak benar-benar bekerja. Dan sekarang aku sedang membangunnya. Membangun bisnisku sendiri. Dengan dukungan dan restu dari imamku, suamiku, insyaallah rejeki akan menjadi berkah :)

Here I'm now, anak manja yang merantau. Berjuang demi kehidupan yang lebih baik , untukku dan suamiku. Berusaha dan tidak lelah untuk berdoa, untukku dan suamiku..

Senin, 22 Oktober 2012

Ulang Tahun Pertama...

Wajah suamiku di pagi Ulang Tahunnya ke 23 :)


Ini adalah tahun pertama aku bisa menyanyikan lagu ulang tahun tepat di sisi nya. Selama 5 tahun kami menjalani hubungan jarak jauh, setiap jam 00.00 kami tidak pernah bosan untuk menjadi peserta pertama yang memberi ucapan Ulang Tahun. Lewat telepon tentunya.. :) Biasanya, kami sama-sama tidak tidur, sama-sama menunggu jam 00.00 itu datang. Karena kami sudah sama-sama tahu bahwa tidak lama lagi telepon akan berdering, dan suara kekasih dari "seberang" sana akan terdengar. Lantunan lagu selamat ulang tahun juga langsung terdengar tidak lama setelah telepon di angkat. Tidak perlu suara merdu untuk membuat hati kami sejuk dan membuat senyum tidak akan lepas seharian, mengingat kami berdua sama-sama tidak bisa menyanyi.. hahahaaa :))

Dan sekarang, 20 Oktober 2012, ulang tahun pertamanya sebagai suamiku. Bukan suara di "seberang" lagi yang ditunggu, tapi suara di "sebelah". Begitu dekat, tidak sampai 10 cm. Dapat dipastikan aku menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Lengkap dengan semua doa yang tulus dan serius dariku. Berdoa demi dia, demi kami berdua.
Sebelum membangunkannya sambil mengucapkan "selamat ulang tahun", wajah ini lah yang aku lihat. Aku amati dengan serius. Tidak menyangka sekarang kami begitu dekat. Tidak lagi terpisahkan oleh jalanan panjang. Tidak lagi terpisahkan oleh lautan. Tidak lagi terpisahkan oleh ruang. Sudah tidak ada lagi suara putus-putus (ini sering terjadi saat kami sedang telpon-telponan, masalah sinyal membuat suara kami sering terputus, jadi tidak jelas -.-a ).


Cukup lama aku memperhatikan wajahnya yang sedang terlelap. Mengingat setiap ulang tahun Iwa dalam 5  tahun ini. Tidak pernah kami merayakan ulang tahun kami bersama. Karena, liburan semester tidak pernah pas dengan saat ulang tahunnya ataupun ulang tahunku. Jadi, kami sudah biasa saling telepon dan mengirimkan hadiah lewat Pos Indonesia atau JNE. Bukan tentang nilai hadiahnya, tapi dari siapa hadiah itu diberikan.

Aku masih mengamati wajahnya yang mungkin saat ini sedang bermimpi. Tidur begitu nyenyak seperti bayi. Aku tidak bosan melihatnya, sampai akhirnya jam 00.00 tiba, times to wake him up! ^.^ .. ku kecup pipi nya yang tembem itu, dan ku nyanyikan lagu ulang tahun, LIVE! :))

Rabu, 17 Oktober 2012

Aku mau kalian selamanya..



Diki, Mpokne, Aku, Manda dan Tembul

Saudara bisa jadi orang lain, Orang lain bisa jadi saudara

Kalimat yang sudah sangat familiar ditelinga itu, buat aku cocok untuk menggambarkan pertemanan kami, aku, Mosul;Monyet;Jerangkong;Maling (diki), brian (mpokne), mando bando (manda) dan tembul (tetep tembul :)) ). Kami berteman sejak duduk di bangku SMA. Sama-sama berkecimpung di keorganisasian sekolah, OSIS, membuat kami memiliki ikatan yang cukup dekat saat itu, walaupun tidak terlalu intens juga. Tapi, ternyata pasca lulus dan sudah tidak satu sekolah lagi, malah membuat hubungan kami semakin erat. Kami berbeda satu sama lain, tapi kami begitu nyaman menghabiskan waktu bersama. 

Pagi ini Diki, yang biasa aku sebut "nyet"- karena tingkahnya yang mirip kera sakti itu - menyuruhku untuk mendengarkan lagu Ten2Five "TEMAN".. Single lama yang baru saja aku dengar. Sebentar saja aku mendengarnya, rasanya inginku menangis. Oh ya Allah.. So simple tapi begitu menyentuh.. Lagu ini benar-benar menggambarkan hubungan pertemanan kami..

Teman, adalah hal terbaik yang pernah kumiliki
S'lama hidupku, s'lama masaku
Walau tak mungkin selamanya
S'lalu berdekatan, s'lalu beriringan
Terhalang jarak dan waktu

Untuk bicara, tertawa dan bercanda
Tumpahkan kekesalan
Menangis saat putus cinta

Aku mau teman selamanya
Berbagi tangis dan tawa
Tak mau sendiri, merasa sepi
Teman berikan aku ketenangan
Teman buat kurasakan bahagia
Pertemuan yang lama sudah kutunggu
Bebaskan hati ini dari rasa rindu


Teman, apapun yang terjadi

Jangan berubah, oh berjanjilah

Selalu sempatkan waktu


Untuk bicara, tertawa dan bercanda
Tumpahkan kekesalan
Menangis saat putus cinta

Ingatkah saat sekolah dulu
Kita semua punya mimpi
Dan lihat semua kini
Kuharap kebersamaan ini
Tak berakhir

#friendship #forever #loving #hug #memory 

Chef Kebanggaan Suamiku

Dulu aku hanya bisa menyajikan Onibunder untuk suamiku. Hanya itu keahlian kulineri ku.. hehe :p

Iwa adalah orang yang sangat suka makan. Berbeda denganku yang tidak terlalu suka makan, Iwa sangat suka. Dia bisa makan apa saja dan kapan saja. Itulah kenapa badannya montok dan berat badannya mudah nai, tidak seperti aku yang susah sekali menaikkan berat badan.. hiks.. T-T
Tapi, satu hal yang sama yang berkaitan dengan kuliner, kami sama-sama penyuka acara TV masak, terutama Master Chef. Kami sama-sama tidak bisa masak, tapi kami sama-sama berkhayal bisa menjadi master chef. Dapat menyajikan makanan-makanan yang enak dengan tangan kami sendiri. It's awsome!! houwooooo... 

Sejak aku menikah, aku bertekad untuk bisa masak. Aku harus bisa selalu menyajikan makanan enak untuk suamiku. Dari tanganku sendiri. Sampai akhirnya suamiku akan bangga memiliki istri yang pintar masak seperti aku. Hohohooo.. Yah memang sih sekarang banyak wanita yang bilang bahwa perempuan bisa masak itu bukan kewajiban, toh ya laki juga banyak yang udah bisa masak, lagian kata mereka toh ada pembantu.. houwoooo... tapi, entah ya, kalo aku mah, rasanya seneng banget bisa ngeliat suamiku makan masakanku.. dududuuuu.. dan seneng juga kalo suamiku suka sama masakanku.. yeay!! ^.^

Sebelum menikah, aku sudah merencanakan untuk intens belajar memasak. Tapi sayang, dengan seabrek kesibukan dan kewajiban di luar rumah, tidak ada waktu untuk mulai belajar. Sampai akhirnya aku sampai di Rumahku dan Iwa di Sanggau, keterpaksaan untuk bisa memaksa itu pun muncul. Iyessss,, atas dasar terpaksa, akhirnya aku benar-benar belajar masak. Dibantu oleh mamaku, aku di ajari dari mulai berbelanja, mengenali bumbu-bumbu dapur sampai dengan mengolah setiap bahan baku menjadi makanan yang lezat. Dan waaaallllaaaa... sudah 2 minggu aku di sanggau dan aku sudah bisa masak. Setiap makan siang Iwa pulang dan makanan lezat buatanku sendiri sudah menunggu untuk disantap. Obrolan kami selain tentang banyak hal, tapi juga tentang masakanku itu sendiri. Membahasnya seperti yang biasa di bahas di master cher. Over cook lah, kurang "berwarna" lah, Perfect lah, platting nya kah.. hahahaaaa.. itu obrolan yang menyenangkan..

Dan ternyata memasak memang tidak sesulit yang dulu aku bayangkan. Satu hal yang akan selalu aku pegang adalah, tidak akan setitikpun aku menggunakan vetsin/MSG. Dalam jangka panjang tidak baik bagi kesehatan kami. Jadi, ya bermain di bumbu dapur yang ada, bermain dengan gula dan garam untuk menyedapkan rasa nya. Masakanku tetap lezat walaupun tanpa vetsin/MSG lhoo.. Jadi, kalau aku bisa, pasti kalian bisa!!! Yuuukk, mulai hidup sehat tanpa vetsin/MSG (kayak ngiklan yaaaa.. :)) )

Alhamdulillah, sekarang Iwa berbangga karena mempunyai chef pribadi hanya untuknya. Dan syukurlah itu aku, istrinya, bukan orang lain, bukan "rewang".. hohohoooo..

Anyway, sejak bisa memasak, sekarang nafsu makan ku pun meningkat. Yah semoga saja, aku juga bisa seperti Iwa, bohai..hahahaaa :)) supaya tidak terlalu kuruuusss, huhuhuuuu T-T Target ku 3 bulan di Sanggau ini adalah naik 10 kg!!! Yeaaayy!!! Fyi, 2 minggu tinggal di Sanggau, berat badanku sudah naik 3 kg.. yiiihhaaaaa!!!! Semangat Chef Devi!!! #ahahaiiii

HiMARRIEDsurya - Piala Bergilir Himasurya STAN 2007





Himarriedsurya adalah piala bergilirnya temen-temen Himasurya Stan. Himasurya adalah temen-temen Surabaya yang bersekolah di STAN. Iwa, suamiku, adalah anak Stan angkatan 2007. Dan di angkatan 2007 ini kreatif banget! Baru mereka nie yang bikin piala bergilir. Selain itu, nama pasangan juga di cetak di atas plakat yang ada di piala tersebut. Di piala ini, namaku dan nama iwa tercatat di nomer 6. Artinya, dari temen-temen himasurya angkatan 2007, Iwa adalah orang ke-6 yang menikah. Peraturannya, piala ini harus diserahkan oleh satu pengantin ke pengantin berikutnya dengan diiringi oleh teman-teman himasurya lainnya. SERU!

Aku sangat meng-apresiasi piala ini, karena aku merasa seperti memiliki keterikatan tersendiri dengan himasurya. Dengan adanya piala ini, hubungan teman-teman himasurya yang sudah ditempatkan di seluruh Indonesia, jadi tetap terjalin. Siapapun yang menikah, kami jadi tahu dan bisa saling mendoakan, bisa ikut memeriahkan juga, ahahaiiii :)) .. Yah, karena nantinya semua nama temen-temen himasurya dan pasangannya akan tertera di piala HiMARIEDsurya ini, jadinya terbentuklah keluarga besar himasurya. Which is good! ^.^ aku bangga bisa menjadi bagian dari keluarga besar ini :) Anywaaaay, apa g dibuat juga HimaBABYsurya ya..?? jadi ada piala bergilir untuk setiap baby yang lahir dari keluarga himasurya.. hahahaaa.. it would be nice!! bener-bener rame deh ya nanti pialanya. Rempong sih kayaknya, but it will fun!! Setiap ada bayi yang lahir, semua keluarga himasurya akan ikut "merayakannya".. \(^o^)/

Btw, Aku jadi ingat, saat pernikahanku, teman-teman himasurya datang untuk menyerahkan piala ini. Setelah menyerahkan piala ini, mereka menggendong Iwa dan menjatuhkannya begitu saja.. HAHAHAAAAA :)) untung pantatnya Iwa itu bahenol, jd g sakit deh waktu jatuh, ada "bantalnya",, heheheee :p



Here I am , a Wife of a Lovable Husband #marriage 1

Here I am, a wife. Some people said that this title is too hard for a woman in my age. That's why, banyak wanita seumuranku bilang, untuk nikah nanti saja. Karena, takut nanti kalau sudah menikah jadi tidak bebas lagi. Takut jika nanti menikah, jadi tidak bisa menggapai cita-cita lagi. Intinya, masih ingin bebas, masih ingin menggapai cita-cita, masih ingin ini dan masih ingin itu.

Aku sempat tergelitik dengan hal ini, karena banyaknya persepsi itu seolah-seolah pernikahan adalah akhir dari kehidupan. Menakutkan sekali ya jadinya -.-a

Seseorang pernah berkata kepadaku, kemungkinan seorang wanita masih takut untuk menikah adalah karena pasangan mereka saat ini tidak cukup meyakinkan untuk di ajak ke jenjang pernikahan. Aku setuju dengan ini. Karena, saat lelaki itu sudah "siap" (Siap disini dapat diartikan secara luas, tidak hanya tentang finansial) sang wanita pun akan merasa siap. Selain itu, mungkin karena pasangan nya saat ini memang bukanlah yang terbaik untuknya. Lhah gimana, masa' partner hidup kita membuat kita tidak bisa menggapai mimpi kita (tapi ya ga tahu lagi kalo ternyata mimpi kita itu memang sebenarnya menurut Allah tidak baik untuk kita). Dan tentang kebebasan. Wanita takut tidak bebas lagi. Nah.. "bebas" seperti apa yang dimaksud ya? bebas g bisa keluar ke sana - ke sini sama teman-teman pria lagi tanpa seijin suami? kalo itu mah, berarti memang si wanita belum punya jiwa istri muslimah. atau bebas g bisa keluar-keluar lagi sama sahabat-sahabat dekat? kalo ini mah, antara sahabat kita yang memang tidak baik menurut pasangan atau kita yang kurang bisa menunjukkan bahwa dengan bergaul dengan sahabat dapat menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Tapi, kalau memang bergaul dengan sahabat-sahabat kita itu tidak menjadikan kualitas diri menjadi lebih baik atau malah menjauhkan kita dari jalan Allah, ya berarti memang kudu instrospeksi nie kita. Intinya, tidak ada kebebasan yang mutlak. Segala sesuatu ada boundary nya. Allah yang atur. Selama ngikutin apa yang sudah di atur sama Allah, insyaallah, kebebasan itu tidak akan hilang oleh sebuah pernikahan :)

So... here I am, a wife of a lovable husband..


Saat aku menikah dengan suamiku, cita-cita ku menjadi lebih BESAR. Kekuatan untuk menggapai cita-cita itupun menjadi lebih kuat. Karena, sekarang ada 2 insan, aku dan suamiku, yang memiliki 1 cita-cita yang sama dengan 2 kekuatan yang menjadi 1. Jadi, jika dulu aku memiliki 1 cita-cita dengan 1 kekuatan, kekuatanku saja, sekarang aku memiliki 1 cita-cita dengan 2 kekuatan besar.

Kebebasan? sekarang aku begitu bebas. Karena sudah ada seorang lelaki, seorang Imam yang bertanggung jawab atas aku. Bukan dosa lagi jika aku bergandengan mesra dengan lelaki pasangan hidupku ini. Pergi kemana-mana berdua dari pagi sampai malam. Berpelukan. Saling mendekatkan pipi kami saat berfoto lalu memasangnya di DP BBM ku. Dia sekarang halal bagiku, begitu pula aku baginya. Jadi kami bebas, bebas menurut aturan Allah, teteeepp.. :))

Masih ingin ini itu juga masih, malah sekarang keinginanku semakin banyak. Hahahahaaaaa.. :)) Dan disetiap keinginanku itu adalah keinginan untuk membaikkan kami berdua. Kualitas kami sebagai manusia di dunia dan akhirat. Insyaallah :)

Minggu, 14 Oktober 2012

Saat Aku Sakit..

Beberapa hari ini badanku luar biasa tidak enak. Entahlah, semacam masuk angin, kepala pusing, perut sakit, badan menggigil dan tenggorokan sakit, kompak menghampiriku. Dan komplikasi ini datangnya juga tiba-tiba. Kadang aku bisa sangat sehat, tidak lama kemudian aku bisa sangat sakit. Rasanya tidak kuat lagi untuk beraktifitas. Terkapar di atas kasur berpeluk selimut yang cukup tebal dan memakai kaos kaki tebal. Benar-benar kondisi yang tidak mengenakkan. Aku tidak bisa berbuat apapun seharian. T-T

Selama sakit pake kaos kaki tebel terruuus. >.<


Hal yang membuatku terenyuh adalah perlakuan Iwa, suamiku. Dia begitu khawatir dan menjagaku hampir 24 jam! Iwa buka tipe orang yang kuat tidur sampai malam. Jam 9 malam saja, dia sudah harus bertemu kasur dan tidur. Tidak seperti aku yang lebih suka tidur tengah malam, hampir pagi :p ...
Tapi, karena aku sakit, dia menjagaku sampai tengah malam. Saat jam 4 pagi aku terbangun dan merasa sangat tidak enak dengan badanku, Iwa bangun dan dengan sigap membuatkan aku teh hangat. That's sweet. Walaupun,. setelah dia lari ke dapur untuk membuatkan aku teh, dia segera kembali lagi ke kamar untuk bertanya "Gimana caranya buat teh?".. HAHAHAHAAAA :)) Aku tertawa kencang, walau tidak sekencang biasanya :p *beberapa detik aku lupa akan sakitku saking geli nya :)) *
Kemudian, aku memberinya instruksi, apa saja yang harus dia lakukan untuk membuatkan aku teh hangat. Dia langsung melakukannya, dan hasilnya, dia memberikanku teh yang membuat tenggorokan dan perutku menjadi lebih baik :)
Dia tidak tidur sampai memastikan aku sudah bisa tidur lagi. Dia menjagaku, membetulkan selimutku, seperti tidak akan membiarkan angin sekecil apapun masuk ke tubuhku dan membuatku lebih sakit.

Beberapa hari ini juga kami hanya makan mie atau telur. Karena, aku masih tidak sanggup ke dapur untuk masak. Kena sedikit angin saja, badanku langsung meriang. Jadinya, aku hanya tidur berselimut, minum obat dan berdoa agar aku cepat sehat. Disaat seperti itu, aku menyadari, betapa mahalnya kesehatan itu :'(
Iwa tidak terlalu pandai dalam menggunakan kompor di rumah kami. Namun, dia tetap nekat ke dapur untuk membuatkan sesuatu untukku. Maklum, Iwa tidak kuperbolehkan beli makan diluar, karena terakhir kali Iwa membawakan makanan dari salah satu restoran di sanggau, tidak ada satupun yang aku sentuh. Rasanya aneh. Lidahku tidak cocok dengan selera masakan makanan di Sanggau ini -.-a.. Jadi, Iwa berusaha membuatkan makanan untukku. Dia pernah membuatkanku telur dadar, telur yang dia buat gosong dan  hambar, hahahaaaa :)).. tapi, lagi-lagi, usaha yang dia lakukan untuk menyediakan makanan untuk kami berdua itu, dapat membuat kesehatanku semakin membaik. Mungkin karena melihat ketulusan Iwa, yang sama sekali tidak pernah menyentuh dapur kami, tapi rela melayaniku selama aku sakit.


PS : saat menulis blog ini, alhamdulillah aku sudah sehat. Sudah bisa beraktifitas dan menyiapkan makanan yang lezat untuk suamiku tercinta.. He deserve it! ^.^ Loving you as always!!! :*

Senin, 08 Oktober 2012

Menjadi Mutiara Bukan Bunga - Hijabku #2


Tahukah kamu betapa sulitnya mendapatkan mutiara dan betapa mudahnya mendapatkan bunga?
Tahukah kamu betapa mahalnya harga mutiara dan betapa murahnya harga bunga?
Mungkin, inilah mengapa aku lebih memilih menjadi mutiara daripada menjadi Bunga..

Hijab Bukan Pilihan - Hijabku #1

Kemarin aku menonton sebuah FTV di salah satu siaran televisi. Baru ini aku melihat FTV yang "bobot" untuk dilihat. Di dalam FTV tersebut, di bahas tentang wanita muslim yang seharusnya. Dimana seharusnya wanita itu menutup auratnya. Aku jadi teringat tentang hal pertama yang "menampar"ku dulu saat pertama kali aku memakai jilbab. Jadi, blog ku kali ini akan aku bahas tentang #hijab. dimulai dengan judul "Hijab Bukan Pilihan - Hijabku #1"

Aku memakai hijab sejak aku duduk di bangku TK. Aku bersekolah di TK aisyah, SD Muhammadiyah 4 Sby, SMP Negeri 1 Sby, SMA Negeri 16 Sby dan yang terakhir UNAIR. Aku sempat melepas hijabku saat aku duduk di bangku SMA, alasannya klise, karena aku ingin tahu rasanya menjadi perempuan yang tidak memakai hijab. Dan aku ingin, nantinya jika aku memakai hijab, adalah karena aku ingin, bukan karena sudah terlanjur aku memakainya dari TK. 

Selama aku tidak memakai hijab, aku membodohi diriku sendiri. Aku tahu bahwa memakai hijab itu adalah sebuah kewajiban, sama hal nya dengan sholat, bukan pilihan. Tapi aku memilih untuk meyakinkan diriku "Lebih baik aku menghijabi hatiku dulu sebelum aku menghijabi fisikku. Percuma memakai hijab jika hatinya busuk". Yah, aku sering mengatakannya pada diriku sendiri. Membohongi diriku. Mencoba melupakan hal-hal yang di ajarkan padaku sedari kecil. Sampai akhirnya, aku menyerah. Aku menyerah karena aku terlalu pintar untuk dibodohi oleh kata-kata klise yang aku coba yakini itu. Aku pun mulai mengingat semua yang di ajarkan padaku saat aku kecil.

1. Nasehat Guru SD ku

Aku ingat, dulu aku mempunyai guru SD, wali kelasku saat kelas 6. Dia pernah bilang kepadaku, "Setiap kamu keluar dari rumahmu tanpa hijabmu, tanpa menutup auratmu, kamu akan merugi. Karena, belum juga kamu berbuat dosa apapun di hari itu, kamu sudah mempunyai abonemen dosa. Dan dosa itu seperti kerikil bara api neraka yang kamu tumpuk setiap waktunya yang nantinya digunakan untuk membakar kedua orang tuamu di neraka." Aku merinding saat mendengarkannya, kenapa saat aku tidak menutup auratku kemudian sama saja dengan aku mengumpulkan kerikil bara api untuk membakar kedua orang tuaku? kenapa orang tuaku?. Aku ingat guruku melanjutkan, "karena, orang tuamu berarti gagal mendidikmu. Gagal menyuruhmu untuk mengenakan hijab dan menutup auratmu. Orang tuamu bertanggung jawab atas dirimu. Jadi, saat kamu tidak menutup auratmu sama saja kamu sedikit demi sedikit menyiapkan bara untuk membakar orang tuamu" Kata-kata guruku ini begitu melekat di kepalaku. Aku sayang kedua orang tuaku. Mereka sudah begitu banyak beribadah, namun harus tetap dibakar di neraka karena aku?? NO WAY!

2. Ceramah Agama

Saat itu bulan ramadhan tahun 2008, aku terdiam cukup lama setelah mendengarkan sebuah ceramah agama oleh seorang ustadzah di televisi. Aku merasa malu. Hmmm... intinya, dia mengatakan hal yang sebenarnya sudah aku tahu sejak lama, tapi aku mengingkarinya dengan berbagai alasan. Berbagai alasan yang terdengar masuk akal dan logis, bagiku dan aku yakin juga bagi banyak orang disekitarku. Dia berkata bahwa tidak ada di al-qur'an yang mengajarkan tentang "hijabilah dulu hatimu, baru hijabi fisikmu". Tidak ada satu ayat pun di al-qur'an yang mengatakannya. Jadi, jika ada wanita yang mengagung-agung-kan kata-kata ini, "Dia ngawur. Hanya untuk pembelaan diri" itu yang dikatakan ustadzah. Dan aku tahu itu benar. Di Al-Qur'an dengan jelas di katakan untuk setiap wanita muslim menutup auratnya, fisiknya. Itu saja.. Aku tahu itu benar, dan selama ini aku berusaha mengingkarinya, dengan memperkuat alasan-alasanku mengapa tidak memakai hijab.

Hijab bukanlah sebuah pilihan. 
Hijab Bukan sebuah pilihan untuk boleh memakai atau boleh tidak

Hijab adalah kewajiban


 Kewajiban ber-hijab, sama dengan sholat. Tidak ada pilihan untuk tidak melakukannya. Karena, itu adalah sebuah kewajiban. Mungkin seperti kewajiban wajib pajak untuk membayar pajak. Mengikat dan memaksa. Tidak ada sela untuk memilih. Harus, tanpa tedeng aling-aling. Harus, tanpa alasan yang dibuat-buat. Mungkin kalau Allah bisa menjawab setiap alasan yang dibuat setiap wanita muslimah, Allah akan bilang "No Excuse girls".. Baguslah kalo hanya dibilang dengan kata-kata, kalo di ingatkan dengan "digetok palu" sama Allah, itu yang serem -.-a

Minggu, 07 Oktober 2012

Sirius Black ada di Sanggau

Pemandangan dari atas bukit
Minggu pagi aku dan suamiku, Iwa, bangun lebih pagi untuk menikmati udara segar Sanggau. Kami jalan-jalan sampai ke atas bukit untuk menyegarkan mata, paru-paru sekaligus untuk mengabadikan foto berdua. Karena, seingat ku, kami belum pernah foto berdua sejak menginjakkan kaki di rumah Sanggau. So, aku membawa tripod dan kamera digitalku bersama kami ke atas bukit. Sungguh menyenangkan jalan-jalan pagi bersama suami. Sungguh senang rasa hati ini. Senyuman tidak juga lepas dari wajah kami berdua. Diselingi dengan bercandaan khas kami berdua, kami menghabiskan waktu di atas bukit, menikmati alam, mensyukuri semua karunia Allah, semua rejekinya, jalan yang telah Dia sediakan untuk kami berdua. Kami benar-benar bersyukur atas semua kelancaran dan kemudahan.

Setelah puas memanjakan mata dengan pemandangan dari atas bukit, kami berniat untuk segera pulang dan sarapan. TAPI, anjing hitam sudah ada di balik punggung kami. Iya, di Sanggau ini, banyak sekali warga  yang memelihara anjing. Anjing disini sudah seperti ayam atau kucing, berkeliaran kemana-mana tanpa di beri kalung pengekang di lehernya -.-a Dan, kabar yang aku dengar dari supir travel kami dulu, anjing disini sangat di hargai. Kalau sampai ada yang menabraknya, penggantiannya seharga sapi! hmmmm... *apa kalo ada yang nabrak sapi, penggantiannya bakal seharga anjing ya? :))

Kembali ke anjing hitam di balik punggung kami...
Kami kaget saat melihat anjing itu mulai menggonggong dan mendekat ke arah kami. Oh ya ampun, g kebayang pagi-pagi gini di gigit anjing. Akhirnya, yang tadinya berniat untuk turun, kami memilih untuk naik lebih tinggi ke atas bukit. Sambil tetap berusaha tenang dan saling menenangkan. Saat menoleh ke belakang, anjing itu tetap mengikuti kami, mengendap-endap, ASEEEMMM DEEEKKKK... >.<

Anjing Hitam yang mengingatkanku pada Sirius Black
Selang beberapa saat, kami putuskan untuk melewati si Anjing Hitam, kami tanggung segala resikonya, karena tidak mungkin kami berdiam di atas bukit seharian, menunggu sirius black itu pergi. Jadi, kami jalan pelaaaann-pelaaaan but stay calm and cool, sambil terus berdoa dan tentunya saling menenangkan. Keselnya adalah saat kami melewatinya, dia terus menatap kami sambil terus menggonggong.. grrrrrr... bikin merinding kan?!?!? 

Kami harus memilih untuk melewatinya, karena tidak ada jalan berputar. Tidak ada jalan lain untuk di lalui kecuali jalanan itu. Saat itu begitu mencekam, rasanya kami ingin berteriak meminta tolong kepada siapa saja untuk membawa anjing itu pergi dan menjauh dari kami. Tapi, karena masih pagi dan sepi, terasa begitu konyol kalau kami berteriak seperti gadis manja. hahahaaa.. :))

Aku memegang erat tangan iwa, bukan karena takut tapi lebih karena aku ingin menggeretnya bersamaku, untuk melewati sirius black. Iwa begitu tegang dan sebenarnya lebih memilih untuk menunggu sirius black pergi daripada melewatinya. Namun, walaupun aku juga takut, aku punya keyakinan yang sangat kuat bahwa anjing itu tidak akan menggigit kami. Aku yakin dia hanya akan menggonggong. its called faith.. :p

Dan akhirnya, kami pun berhasil melewatinya. Selepas itu, kami ngomel-ngomel dan membayangkan kami memenjarakan sirius black ke penjara azkaban :))

Setelah itu, kami lanjutkan berfoto, di halaman rumah kami.. Melunturkan semua ketegangan dan mulai menikmati pagi lagiii.. we are enjoying our live :)
Peyyuukkk cuamiiii :*

Di teras rumah


Di halaman rumah



Jumat, 05 Oktober 2012

Pernikahanku di kamera adikku..

Tanggal 16 September 2012 adalah tanggal pernikahanku dengan Iwa. Pernikahan kami di adakan dengan sederhana di restoran Taman Sari Indah dengan dihadiri oleh saudara, keluarga dan sahabat-sahabat terdekat. Kami menginginkan pernikahan yang sederhana namun terasa dekat dengan mengumpulkan orang-orang terkasih. Dengan membagi kebahagiaan dengan mereka yang berada dekat dalam hidup kami. Sederhana.. :)

Dibalik angka 24

Iwa baru saja memesan kaos juve, tim sepak bola kesayangannya. Seperti anak kecil, dia begitu senang saat kaos pesanannya itu datang. Saat latihan futsal, dia langsung memakainya, dan dengan senyum paling lebar di wajahnya dia bilang, "Gimana? Tampan kan aku??".. hahahaaaa.. tentu saja bun! You look awsome, and bahenol :p .. 

Yah, aku memang sudah lama tahu kalau Iwa begitu senang dengan Juve, sampai-sampai dia bisa begitu happy saat Juve menang, dan sebaliknya akan terlihat begitu kesal jika ada hal buruk yang terjadi pada Juve.. hahahaaaa.. Then I just try to understand his feeling and apreciate it.. :)
Aku yang tidak terlalu suka bola, sedikit banyak jadi mulai mengikuti perkembangannya juga. Karena, aku pastinya juga ikut menemani Iwa saat menonton bola, se-pagi apapun Juve tampil di TV. Kemudian mendengarkan setiap kehebatan Juve. Dan aku belajar untuk mengerti plus menghafalkan nama-nama pemain Juve, yah supaya aku bisa connect saat mendengarkan setiap ceritanya yang selalu diceritakannya dengan mata berbinar.. :D

Suatu ketika, Iwa bertanya kepadaku "kamu tahu kenapa aku selalu menggunakan angka 24 sebagai nomor punggungku, disetiap kaos futsalku?".. lalu dia melanjutkan, "Ini sebagai pengingatku, atas rasa syukurku, karena di tanggal 2 bulan ke-4 lhah akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk memulai hubungan denganmu".. hahahaaaaa :)) that's sweet. really.. Aku tidak menyangka dia begitu "memikirkannya". Dan kemudian aku mulai menyadari, bahwa baju-baju futsalnya sejak kuliah, memang bernomor punggung 24. Oh yes, he just loving me like I do in his own way.. 

Memang tidak harus melakukan hal-hal spektakuler seperti memindahkan gunung atau bahkan membawakan bulan ke pangkuan kekasihmu, namun "hanya" dengan hal-hal kecil yang tulus dan tidak dibuat-buat terkadang terasa lebih touchy dan bisa buat senyum-senyum sendiri saat mengingatnya lagi #blushing

*fyi, kami memulai berpacaran pada tanggal 2 April 2007.

Kamis, 04 Oktober 2012

Acara Mendoa memakai Pakaian Minang









Ini adalah beberapa fotoku dan Iwa saat acara Mendoa yang diadakan di rumah nya 3 hari setelah resepsi kami 16 september 2012, yaitu tanggal 19 September 2012. Buat aku, ini adalah pengalaman yang sangat menarik. Bagaimana tidak? aku yang orang jawa asli, memakai baju khas Minang. Mengenakan Suntiang yang beratnya Naudzubillah #SERIUS.. Padahal, kata mama mertua, itu HANYA 1 lapis! dulu, mama mertua memakai suntiang 3 lapis!!! Maaaaaaakkkk,, gak bisa ngebayangin betapa beratnya.. Wong yang 1 lapis aja rasanya keringat dingin mengalir di punggungku.. hahahaaaa.. :))
Duduk di Quade kurang lebih 2,5 jam dengan suntiang ini membuat ku pusing kepala, untungnya, saat dilepas, asisten periasku memijat-mijat kepalaku yang rasanya mau pecah.. It's work! 
But, Over all, walopun seberat apapun, AKU SENENG BANGET diberi kesempatan memakai pakaian khas minang ini.. BANGGA!! thank you Mama Mertuaaaaa.. #BigHug dan tentunya, terima kasih untuk mbak Feby sebagai periasku, yang sudah buat aku tampil cantik dengan suntiang dikepalaku.. ^.^

Our Pre wedd's video



Ini video pre-wedd kami, aku dan Iwa. Sebenernya kami ngelakuin pre-wedd di 3 tempat, SMA 16 Sby,  Studio Musik Alkafellas dan di jalan tunjungan, by Remo Photography. Tapi, 1 tempat yang paling bersejarah bagi kami adalah di SMA 16, karena disanalah kami pertama kali bertemu. Datang kembali ke kelas kami dulu, XII IA 2, membuat kami langsung terkenang. Melihat bangku-bangku cokelat itu, papan tulisnya, temboknya yang sepertinya tidak pernah di cat sejak kami lulus tahun 2007, g berubaaaahh.. hahahaaa :))
I really love that moment. So touchy.. Waktu terasa berjalan begitu cepat yaaaa.. Rasanya baru kemarin kami bertemu, memutuskan untuk berpacaran dan sekarang kami melakukan pre wedd di tempat yang sama kami memulai hubungan.. thats sweet.. :)

Enjoy the video :)

Bunda Aqilla's Blog

Rahma Oktavia dan Devi Yanuari - Owner Bunda Aqilla
Back to business everybody!!!!!! ^.^

http://bundaaqillalovingfood.blogspot.com/2012/10/nugget-sehat-bunda-aqilla.html