Aku memakai hijab sejak aku duduk di bangku TK. Aku bersekolah di TK aisyah, SD Muhammadiyah 4 Sby, SMP Negeri 1 Sby, SMA Negeri 16 Sby dan yang terakhir UNAIR. Aku sempat melepas hijabku saat aku duduk di bangku SMA, alasannya klise, karena aku ingin tahu rasanya menjadi perempuan yang tidak memakai hijab. Dan aku ingin, nantinya jika aku memakai hijab, adalah karena aku ingin, bukan karena sudah terlanjur aku memakainya dari TK.
Selama aku tidak memakai hijab, aku membodohi diriku sendiri. Aku tahu bahwa memakai hijab itu adalah sebuah kewajiban, sama hal nya dengan sholat, bukan pilihan. Tapi aku memilih untuk meyakinkan diriku "Lebih baik aku menghijabi hatiku dulu sebelum aku menghijabi fisikku. Percuma memakai hijab jika hatinya busuk". Yah, aku sering mengatakannya pada diriku sendiri. Membohongi diriku. Mencoba melupakan hal-hal yang di ajarkan padaku sedari kecil. Sampai akhirnya, aku menyerah. Aku menyerah karena aku terlalu pintar untuk dibodohi oleh kata-kata klise yang aku coba yakini itu. Aku pun mulai mengingat semua yang di ajarkan padaku saat aku kecil.
1. Nasehat Guru SD ku
Aku ingat, dulu aku mempunyai guru SD, wali kelasku saat kelas 6. Dia pernah bilang kepadaku, "Setiap kamu keluar dari rumahmu tanpa hijabmu, tanpa menutup auratmu, kamu akan merugi. Karena, belum juga kamu berbuat dosa apapun di hari itu, kamu sudah mempunyai abonemen dosa. Dan dosa itu seperti kerikil bara api neraka yang kamu tumpuk setiap waktunya yang nantinya digunakan untuk membakar kedua orang tuamu di neraka." Aku merinding saat mendengarkannya, kenapa saat aku tidak menutup auratku kemudian sama saja dengan aku mengumpulkan kerikil bara api untuk membakar kedua orang tuaku? kenapa orang tuaku?. Aku ingat guruku melanjutkan, "karena, orang tuamu berarti gagal mendidikmu. Gagal menyuruhmu untuk mengenakan hijab dan menutup auratmu. Orang tuamu bertanggung jawab atas dirimu. Jadi, saat kamu tidak menutup auratmu sama saja kamu sedikit demi sedikit menyiapkan bara untuk membakar orang tuamu" Kata-kata guruku ini begitu melekat di kepalaku. Aku sayang kedua orang tuaku. Mereka sudah begitu banyak beribadah, namun harus tetap dibakar di neraka karena aku?? NO WAY!
2. Ceramah Agama
Saat itu bulan ramadhan tahun 2008, aku terdiam cukup lama setelah mendengarkan sebuah ceramah agama oleh seorang ustadzah di televisi. Aku merasa malu. Hmmm... intinya, dia mengatakan hal yang sebenarnya sudah aku tahu sejak lama, tapi aku mengingkarinya dengan berbagai alasan. Berbagai alasan yang terdengar masuk akal dan logis, bagiku dan aku yakin juga bagi banyak orang disekitarku. Dia berkata bahwa tidak ada di al-qur'an yang mengajarkan tentang "hijabilah dulu hatimu, baru hijabi fisikmu". Tidak ada satu ayat pun di al-qur'an yang mengatakannya. Jadi, jika ada wanita yang mengagung-agung-kan kata-kata ini, "Dia ngawur. Hanya untuk pembelaan diri" itu yang dikatakan ustadzah. Dan aku tahu itu benar. Di Al-Qur'an dengan jelas di katakan untuk setiap wanita muslim menutup auratnya, fisiknya. Itu saja.. Aku tahu itu benar, dan selama ini aku berusaha mengingkarinya, dengan memperkuat alasan-alasanku mengapa tidak memakai hijab.
Hijab bukanlah sebuah pilihan.
Hijab Bukan sebuah pilihan untuk boleh memakai atau boleh tidak.
Hijab adalah kewajiban
Kewajiban ber-hijab, sama dengan sholat. Tidak ada pilihan untuk tidak melakukannya. Karena, itu adalah sebuah kewajiban. Mungkin seperti kewajiban wajib pajak untuk membayar pajak. Mengikat dan memaksa. Tidak ada sela untuk memilih. Harus, tanpa tedeng aling-aling. Harus, tanpa alasan yang dibuat-buat. Mungkin kalau Allah bisa menjawab setiap alasan yang dibuat setiap wanita muslimah, Allah akan bilang "No Excuse girls".. Baguslah kalo hanya dibilang dengan kata-kata, kalo di ingatkan dengan "digetok palu" sama Allah, itu yang serem -.-a
Sebenarnya, kadang aku merasa sedikit takut jika ingin membagi kisahku ini. Aku takut di anggap sok suci, sok ngajar-ngajarin, sok ceramah, sok bener sendiri dsb. Aku takut menyindir beberapa pihak yang tidak berkenan dengan tulisanku, karena aku tahu, bahwa masalah "hijab" bagi sebagian besar wanita adalah masalah yang rentan untuk dibahas. Aku takut menyakiti hati wanita yang tidak berkenan dengan tulisanku, aku minta maaf. Aku hanya ingin membagi kisahku, pemikiranku, jika ini bisa membuka pandangan, menjadi bahan untuk direnungi dan menjadi jalan kita dalam mencari ridho Allah menjadi lebih terang, aku sangat bersyukur :) Lets enjoy this blog dengan hati yang lapang ^.^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar