Senin, 03 Juni 2013

Mulut Tanpa Saringan

Well, mungkin jaman sekarang ini jamannya mulut manusia tanpa saringan. Yah artinya, kalau ngomong sudah tidak lagi dipilih pilah, yang penting hati ini puas. Biarkan orang lain mengerti kita. Masalah kita mengerti orang lain atau enggak, itu urusan kesekian.. Waddduuuuhh..
Semua orang tidak ingin tersakiti dan tidak ingin ada dalam posisi yang dirugikan. Yes, kita setuju dengan ini. Tapi, seringkali, akhirnya malah "mengorbankan" orang lain. Lebih baik orang lain yg sakit hati dan dirugikan daripada kita. Some people say ini manusiawi. Tapi kok ya aku bilang ini bukan makna dari manusiawi ya.. Kurang tepat. Sesuatu yang kurang baik tapi dianggap wajar.
Kenapa harus menyakiti hati orang lain supaya kita tidak tersakiti? Mengapa tidak, menyenangkan hati orang lain supaya kita juga senang. Beda kan? Bedaaaaaa...
Mulut ini lebiiiih tajam dari sebilah pedang. Luka fisik bisa di obati, tapi luka dihati karena kata-kata, akan selalu membekas. Yang tersakiti jg tidak hanya objeknya, tapi bisa orang-orang disekitar yang mencintainya lhoooo..
Juga perlu diingat, setiap kata yang sudah terlanjur keluar dari mulut, tidak akan bisa di tarik kembali. Apalagi kalau sudah terlanjur masuk ke telinga orang lain. Kita harus siap bertanggungjawab atas setiap kata yang terucap..

So, its better to find the best way to treat another people and insyaallah another people will treat us well. If not? At least, kita tidak berada di posisi yang menyakiti atau merugikan orang lain :)
Dan.... Mulut dengan saringan itu masih perluuuu sodara sodaraa...

With love,
Mrs.devi yanuari

Jumat, 17 Mei 2013

Curhat

Pernah g kamu menceritakan apa yang sedang terjadi pada hidupmu dan apa yang kamu rasakan tentang hal itu, tapi orang yang kamu percayai untuk mendengarkan kisahmu itu malah menghakimi dan mengecilkan masalahmu??

Aku pernah mengalaminya, dan rasanya campur aduk. Kecewa, marah, malu, merasa salah pilih teman curhat dan sedih.

Kecewa karena saat kita ingin mencurahkan isi hati kita tentang masalah yang sedang kita hadapi, ternyata si "pendengar" hanya "mendengar" tidak berusaha memahami.

Marah karena pendengar seolah "mengecilkan" masalah yang sedang kita hadapi. Walaupun mungkin si pendengar tidak bermaksud demikian, namun komentar dan tanggapan yang diberikan membuatnya demikian.

Merasa salah pilih teman curhat terjadi saat sudah terlanjur secara gamblang mencurahkan semua isi hati. Semacam timbul sebuah penyesalan "harusnya bukan dia yang aku hubungi".

Sedih... Karena, saat kita sedang dalam sebuah masalah dan butuh seseorang untuk di ajak bicara kita sudah begitu yakin bahwa teman yang sudah kita pilih sebagai pendengar adalah orang yang tepat dan terpercaya. Namun, saat ternyata kenyataan terjadi sebaliknya, tidak ada empati, ya jadinya sedih.
Yah.. Saat kita bisa blak2an tentang masalah kita dengan seseorang, itu karena kita sudah merasa yakin bahwa orang ini adalah orang yang tepat untuk dipercaya.
Dan saat kita butuh teman untuk berkeluh kesah, seringkali bukan untuk digurui, tapi hanya sebuah kepuasaan di dengarkan. Seolah rasa kesal dan sedih dalam dada itu hilang seiring dengan keluarnya setiap kata curhat kepada orang terpercaya..

Tapi.. Aku rasa ada satu hal yang aku mulai pahami dengan sebuah kalimat "Jangan pernah berharap pada manusia karena yang kamu dapat adalah kekecewaan, BERHARAPLAH HANYA PADA ALLAH"
Yaaaahh.. Mungkin memang kalimat itu benar.. Dan mungkin, aku akan mulai membiasakan untuk curhat masalah pribadi hanya sama Allah. Karena, kalo sama manusia, yang di dapat kalau tidak sesuai ekspektasi ya itu, kekecewaan.
Dan.. Kalo emang bener2 pengen cerita sama manusia, pastikan 2-3 kali, atau bahkan ratusan kali sebelum curhat yaaa..
Kalo salah pilih orang untuk curhat, bukannya jadi enteng rasa hati ini, malah jadi tambah sedih.. Haiiisshh..

With love,
Mrs.Devi Yanuari

Sabtu, 27 April 2013

Allah lagi, Allah terus

Aku sering menemui situasi dimana aku sudah begitu yakin akan persepsi yang aku bangun sendiri, tapi sering kali juga, persepsiku itu langsung dirubah oleh Nya semudah membalikkan telapak tangan. Allah memang luar biasa... 
Terkadang, saat situasi berjalan tidak sesuai dengan ucapan ku sebelumnya, ada rasa malu pada diriku, malu pada manusia tentunya. Malu karena terkesan tidak komit terhadap apa yang telah aku katakan.
Sedikit demi sedikit aku mulai menyadari bahwa menjadi begitu kekeuh dengan sebuah persepsi akan sesuatu yang sudah aku buat, tidak selamanya baik. Karena, kehidupan ini berproses. Selalu akan ada faktor lain diluar kita. Sesuatu bisa saja berubah karena Allah telah me-setting nya demikian. Dan sekali lagi, Allah lah yang Maha Membolak-balikkan. Allah yang Maha Memutuskan. Pemikiran kita saat ini, belum tentu menjadi pemikiran kita besok. Dulu aku secara keras hati menganggap ini adalah sikap "plin-plan" yang tidak baik. Iya, kalau setiap hari berubah pikiran g jelas, mungkin itu namanya plin-plan. Tapi, kalau berubah persepsi akan sesuatu karena Allah yang beri petunjuk, kita bisa apa? Masa' mau mengingkari petunjuk-petunjuknya? Bisa susah hidup kita nanti. Allah berusaha kasih jalan kemudahan, kita malah kekeuh dengan jalan yang jauh lebih rumit, ruwet.

Sekarang, aku hanya bisa memperbanyak doa ku kepada Allah, agar Allah beri aku pencerahan. Agar Allah selalu menempatkan aku di posisi terbaik. Insyaallah aku percaya sama Allah. As long as I am not stop to try, as long as I'm not stop to Ikhtiar and istiqomah, Insyaallah I'll find my way. The best way..

Yah, memang segala hal itu harus dikembalikan ke Allah ya. Allah lagi, Allah terus. Allah Allah Allah... Subhanallah.. I feel so small.. kalau sudah begini, g penting lagi malu sama manusia, tapi malu sama Allah. Malu karena sering berpikir dan bertindak sok pintar. Seolah-olah sudah tahu segalanya. Seolah-olah sudah paham banget apa yang terbaik dan apa yang terburuk. Allah lagi, Allah terus. Insyaallah..

Mrs.Devi Yanuari

Selasa, 23 April 2013

Komunitas Muslimah Sanggau - Empowering Community in Sanggau,West Borneo

New Friends insyaallah Faedah for Us and for Society :)

Komunitas Muslimah Sanggau - First Event


Here they are my new community, my new friends "Komunitas Muslimah Sanggau".
At the begining, bu Mayar, introduced me to her friends who want to build a community for moslem in Sanggau. Then, here I am, become one of them. 
In there I share my knowledge about "How to build our community, so that our community become exist and faedah" hohohooo... Alhamdulillah, these people is so open minded and want to move forward. Eventhough Sanggau is a small city, at least we start something that can empowering the citizen in Sanggau.
Yes, one of our goal is being as useful as possible to society.
For example, our first event in Kartini's Day is to encourage women in hijab in Sanggau to be more syar'i when wearing hijab and how beautiful women in hijab is. We share our knowledge, and ofcourse gave them some tutorial hijab.
Not just that, another goal is to build an enterpreneur society, one of the way to do that is giving some training . It can increased their value of life. If only every single person in this city want to learn to be more valuable *in every aspect, enterpreneur or intrapreneur* insyaallah, this city,Sanggau, will be a better place to live.. #believe :)

And Insyaallah, Our next event is about healthiness.
Yes, we want to make a educative event which give bright knowledge about awareness "women healthiness". What's that about??? Just wait and join us next month!!!!

empowering,
mrs.deviyanuari
follow @deviyanuari and @komMuslimah

Kamis, 11 April 2013

Build My Life Here!!!


Rainy Afternoon in Sanggau..
Love this weather, moreover when I'm inside the room, so that I'll not getting wet.


Anyway, I want to share about advice that I've get from Mrs.Yuni, she is a wife from Iwa's boss in the office. She is nice and quite often play to my house..

Let me start...
Beliau menasihatkan padaku untuk membesarkan hati saat menemani suami yang ditempatkan di luar jawa, dalam hal ini Kalimantan Barat. Karena, sekali penempatan di Kalimantan Barat, akan butuh waktu yang sangat lama untuk akhirnya bisa dimutasi ke Jawa. Bu Yuni sendiri misalnya, sudah 10 tahun ini melalang buana di Kalimantan Barat. Ada juga ibu-ibu lainnya yang berbagi cerita kepadaku, sudah 4 tahun di Sanggau, 6 tahun, 8 tahun, dan belum tahu kapan akan di mutasi ke homebase. Sooooo,, nasehat baik dari Bu Yuni adalah, Build your life in here!!! Make a friend! and everything just gonna be fine.

Setelah merenungkan nasehat Bu Yuni, aku mulai berpikir untuk membangun semuanya kembali di Kalimantan Barat ini, terutama Sanggau. Dari Oktober sampai Februari kemarin, aku masih merasa bahwa aku hanya sementara disini. So, aku tidak merasa perlu untuk menjaring komunikasi, link, pertemanan dll. Kemarin aku merasa menjadi orang asing di kota ini. Kota yang begitu dingin tanpa kawan, tanpa kesibukanku yang biasanya. The city where "my life is not belong in here". Ragaku mungkin utuh disini, tapi jiwa dan hatiku tersimpan rapih di Surabaya, where I used to be. Kemarin aku masih merasa aku masih bagian dari setiap organisasi dan segala kesibukan yang aku tinggalkan. Kemarin aku masih berpikir, disini hanyalah tempatku untuk menikmati alam dan kesunyian. Kemarin aku masih berpikir bahwa disini aku tidak akan bisa menjadi aku yang sebelumnya, produktif, aktif, sibuk dan bermanfaat. 

Itu kemarin...
Sekarang, Bu Yuni membukakan kata-kataku. Aku akan berada disini dalam waktu yang cukup lama. Bisa, 5,6,7,8,9 bahkan 10 tahun seperti Bu Yuni. Dan aku masih 4 bulan disini... hahahahaaaa... seems so long, mengingat aku tidak mempunyai kehidupanku yang biasanya disini..
So, aku memutuskan untuk Membangun kehidupanku disini. Menjadi produktif, proaktif, just like I used to be. Insyaallah, statusku yang sudah menikah tidak menjadi halangan bagiku. Karena kalau aku yang punya perusahaan, aku akan lebih memilih tim ku yang sudah menikah dan memiliki kualitas super, daripada yang single tapi loyo.. hehe :p What I'm trying to say is Allah will give the best for me. As long as is good for me, Allah pasti akan memudahkan. Insyaallah.

Oya, aku juga sudah mulai (akan) ikut beberapa perkumpulan. So lucky I met Mrs.Mayar (She is a wife of Iwa's friend. And she is a teacher too) Dialah yang mengajakku ke beberapa perkumpulannya. Insyaallah positif.. :)

The rain has stop..
It's good. Cuz, after this the rainbow will a rise..

Allah please save me,
Mrs.Devi Yanuari

Selasa, 09 April 2013

Never Compare Your Life

Ini adalah pembelajaran hidup yang masih terus aku upgrade. NEVER COMPARE YOUR LIFE with other person, or you'll live with suffer. Ditambah dengan kemudahan kita melihat kehidupan orang lain melalui media sosial, kalau kita tidak bisa bijak menghadapinya, bisa-bisa kita malah merasa selalu kurang dibandingkan orang lain.
Semua orang memiliki jalan rejekinya sendiri. Entah itu rejeki jodoh, pekerjaan, studi, dll. Dan semua orang tidak harus melewati jalan yang dilewati oleh orag lain untuk menjadi sukses dalam hidupnya. Orang bisa sukses karena sekolah tinggi, in the other hand, banyak juga orang yang bukan sarjana dapat lebih sukses bahkan meng-hire mereka-mereka yang sarjana. So, semua hal adalah mungkin selama kita tidak pernah berhenti untuk selalu maju. Kalaupun sekarang kita belum mendapat rejeki ataupun kesempatan yang di dapat oleh orang lain, bukan berarti artinya selamanya kita menjadi orang gagal. Success is a journey yang mau g mau harus kita jalani. One by step, step by step. Anggaplah kita ini sedang menaiki tangga, satu per satu anak tangga kita naiki. Disetiap menaiki tangga itu, akan ada saja batu sandungan, yang fungsinya untuk semakin menguatkan kaki kita dalam berpijak. Agar nanti saat sudah di ujung tangga teratas, kita tidak mudah terkoyak oleh angin yang begitu kencang menerjang. Kalau terlalu cepat kita berada di posisi teratas tanpa ada proses yag cukup untuk menguatkan kaki kita, bisa-bisa dengan mudah juga kita akan terjungkal, karena di atas itu angin nya kencan saudara-saudara.. 
Dan jangan terlalu cepat silau dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Takutnya, kita jadi lupa bersyukur atas apa yang sudah kita miliki sekarang. 
Setiap manusia mempunyai masalah. Dan setiap orang berjuang demi apa yang ingin dimilikinya. So, if somebody in your neighborhood got something, just remember, that's the price for what their work for. Karena kita jarang melihat bagaimana banting tulangnya mereka, betapa hebatnya mereka dalam beribadah. Yang kita lihat hanyalah hasil akhirnya yang tampak dipelupuk mata. It's better to mind our own business, our own life, and always do something to increasing your quality of life.
Everything is gonna be okay, if it is not okay, it must be not the end.

Minggu, 07 April 2013

Another thought about Sanggau

Kemarin aku dan Iwa makan siang di salah satu restoran di Sanggau. Tepat di pinggir sungai. I just forgot that place's name. The view is fine and the food is almost good too. Bangunannya dibuat ala gubuk-gubuk yang berjejer di pinggir sungai kapuas. Pemandangannya adalah sungai kapuas itu sendiri, boat ataupun perahu yang hilir mudik dan jembatan di atas sungai. Tapi, 1 hal yang sering aku temui di Sanggau adalah masalah pelayanan.For me, in business (or every profession you are) good service is NUMBER ONE!
*Aku sempat beberapa kali perhatikan, kualitas pelayanan disini adalah nomer kesekian. Malah tidak jarang melayani tapi dengan muka seperti "gak butuh". Apa mungkin karena persaingannya juga belum seketat di Jawa ya? #wondering
In the other side, masih ada kok tempat-tempat disini yang pelayanannya bagus :) . Walaupun itu hanya warung kecil. These people really know how important their custmore are.

Lanjuuutt....
Saat aku pertama datang ke restoran yang sudah dibangun apik di pinggir sungai ini, I have a high expectation. Tapi, setelah aku memilih-milih tempat untuk duduk (lesehan), ekspektasiku langsung terjun bebas. Hampir semua tempat kotor dan tidak terawat. Bahkan ada beberapa tempat yang belum di bereskan, jadi masih banyak piring dan gelas kotor di atasnya. Hiks T-T
Ini sayaaaaaang sekaliiiiii... Tempat sebagus itu tidak di maintenance dengan baik. Selain itu, pelayannya juga tidak ada senyumnya sama sekali. Oh God. Just remember this, when your work is to serve your customer, the important thing is never forget to put a smile in your face. Eventhough you have a bad day. It's called professionalism.
Tapi, yang lebih sedih lagi, saat aku bilang tentang pentingnya pelayanan ke Iwa, he just said "Yah..namanya juga Sanggau, hun". Oke, this sentence explain many things. But, I just believe that everything can change.Yah, semacem jadi agen perubahan dari diri sendiri gitu. I said to him, even if everybody in this environment do that, you dont have to do that too. Apalagi Iwa dulu juga ada di bagian pelayanan. You must be loyal to your profession, wherever this country sent you. Even in the hardest road.. *lgsg istighfar*

MAINTENANCE your assets dan profesionalisme dalam melayani itu penting. Di jaman globalisasi sekarang ini, good performance, good serving, itu sudah g bisa di tawar lagi. Wajib lhah hukumnya..

Kalau mau ditarik lebih jauh, bahkan perusahaan-perusahaan besar sekarang, rela mengeluarkan dana cukup besar untuk mentraining karyawannya dalam upaya peningkatan pelayanan. Dan Dirjen Pajak juga melakukan ini. Iwa pernah diikutkan salah satu pelatihannya. Hal ini harus ditiru oleh instansi-instasi pemerintah lainnya. Karena, good service tidak hanya berlaku untuk sektor swasta, tapi juga sektor publik. Urgenitas inilah yang harus di sadari

Sebagai contoh bentuk pelayanan adalah keep smiling eventhough your day feel so hard. Kalau kita perhatian, sudah begitu banyak perusahaan (terutama swasta) yang mengimplementasikannya. Misal, Pizza Hut selalu memuji setiap pilihan menu yang dipilih oleh customernya dengan kata-kata "Pilihan yang Tepat", lengkap dengan senyum lebar dan jempol yang teracung. Bentuk pelayanan seperti ini pasti sudah ada SOP nya. Kalau kita masuk ke alfamart ataupun indomart, seua karyawan disana berteriak "selamat datang!", hahaha :)). Di KFC, jika kasir melayani kita tanpa senyuman, kita tidak harus membayar semua pesanan yang telah kita pesan dan masih banyak contoh lainnya.
Ini membuktikan bahwa, mereka yang concern terhadap kepuasan customer, adalah mereka yang sudah menyadari how important their customer is for their company.



With love,
Mrs.Devi Yanuari
@deviyanuari