Selasa, 18 Desember 2012

Sintang

Sekarang aku sedang berada di kota Sintang, menemani suamiku dinas. Jarak Sanggau-Sintang 4jam perjalanan. Jarak Pontianak-Sintang 10 jam perjalanan. Yang jelas, sintang berjarak lebih jauh dan lebih masuk ke dalam hutan. Jalanan menuju kesana juga rusak. Lebar jalannya pun lebih sempit jika dibandingkan dengan sanggau-pontianak. Entah kenapa aku merasa bahwa perjalanan ke sintang ini lebih menakutkan. Selain karena lebar jalan yang sempit, juga karena medan jalan yang berlikuk dan terjam.

Namun, sesampainya aku di Sintang, terlihat perekonomian di sini terlihat lebih baik daripada Sanggau. Dapat aku lihat pembangunan cluster2 perumahan, daerah pertokoan pun sudah cukup maju. Sekilas mengingatkanku dengan kota Malang, Jawa Timur.

Selain itu, di Sintang juga telah di bangun bandara perintis, dengan pesawat yang berisikan 46 penumpang. Cukup menarik, karena dengan adanya pesawat ini, warga sintang dapat dengan mudah naik pesawat menuju pontianak. Mungkin inilah salah satu alasan di adakan penyuluhan di Sintang. Sehingga penyuluh dari Jakarta dapat lebih mudah mengakses venue pertemuan tanpa harus merasakan drama di daratan.. hahahaaa..

as conclusion, Sintang memang lebih pelosok daripada Sanggau, tapi juga sekaligus lebih terasa aura perkotaan jika dbandingkan dengan Sanggau.

Ridha Suami

Mengapa ridha suami itu adalah syurga bagimu wahai para istri:

1. Suamimu dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu, bahkan sering kala rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.

2. Suamimu dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah dan ibunya hingga dia beranjak dewasa. Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menanggung nafkahmu, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.

3.Suamimu ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu. Padahal dia tahu, di sisi Allah, engkau lebih harus di hormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya. Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik dari padanya di sisi Allah.

4.Suamimu berusaha menutupi masalahnya dihadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi. padahal bisa saja disaat engkau mengadu itu, dia sedang memiliki masalah yang lebih besar. namun tetap saja masalahmu di utamakan dibandingkan masalah yang dihadapi sendiri.

5.Suamimu berusaha memahami bahasa diammu, bahasa tangisanmu. sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.

6.Bila engkau melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka, karena dia ikut bertanggung jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah di tuntut ke neraka. karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggung jawabkannya sendiri...
-ust.ya'kub "makkah"-

Allura Brooch @20rb

ALL SOLD
No Restock

SOLD

SOLD

SOLD

SOLD
SOLD

SOLD

SOLD


Minggu, 09 Desember 2012

Menemani Suami di Rantau

Pagi ini ada seorang teman yang bertanya padaku..

"Dev, apa kamu pernah menangis saat merantau menemani suamimu? Karena aku sering menangis sekarang, saat ikut suamiku merantau di Jakarta"
"Dev, kok aku liat kamu seneng terus ya? gak pernah homesick?"

Ini jawabanku...

Bohong kalau aku bilang aku tidak pernah menangis. Alasanku menangis adalah karena keadaanku sekarang. Tinggal di pedalaman, jauh dari kesibukan yang biasa aku lalui di Surabaya. Disini juga "sepi" kesempatan, baik itu berdagang, bekerja, berorganisasi maupun bersosialisasi. Jika ingin bekerja   yang sesuai dengan pendidikanku, aku harus menyeberangi sungai kemudian melewati hutan sawit beberapa jam untuk mencapai kantor. Malam hari minim lampu, yang itu artinya tidak mungkin aku pulang ke rumah setelah bekerja, yang itu artinya aku harus memilih tinggal di mess, terpisah dari suamiku, dan itu jelas bukan pilihan yang akan aku ambil. So, Iya aku menangis karena merasa begitu tidak berdaya.

Tapi kemudian aku mengingatkan diriku bahwa menikah lalu menemani suamiadalah pilihanku. Oleh karenanya aku harus komit terhadap setiap pilihan yang sudah aku buat. Alih-alih menangis aku memikirkan solusi. Tidak mungkin Allah menempatkanku di posisiku saat ini tanpa adanya alasan untuk membesarkanku. Dan aku begitu yakin bahwa rejeki ku akan dilimpahkan oleh Allah di mana suamiku berada. Selama aku dekat dan berada di manapun suamiku berada, aku percaya disitulah Allah melimpahkan rejekiku, rejeki kami. bukankah rejeki Allah itu tersebar di seluruh penjuru bumi? Why I should be worry??

Bohong jika aku katakan bahwa aku tidak pernah menangis. Tapi aku selalu ingat pesan orang tuaku untuk berbahagia, karena kebahagiaanku adalah kebahagiaan mereka. Dan betapa sedihnya orang tuaku nanti jika melihatku menangis, terlihat tidak bahagia. Jadi, aku menjalankan amanah orang tuaku, "berbahagialah". Caranya? aku mensyukuri apa yang diberi Allah kepadaku. Mensyukuri setiap hal kecil yang terjadi disekitarku. Kesyukuran inilah yang membuat ku bahagia. Dan jika aku menangis lagi, insyaallah itu hanya karena dan untuk mensyukuri  nikmat-Nya.


Bohong juga jika aku tidak homesick. Everybody who live far from home, pasti merasakan hal ini. Dan solusiku adalah STAY BUSY.. yesss,, Aku menjaga otakku untuk tetap sibuk, sehingga tidak ada ruang untuk menggalau atau bahkan untuk mengkhufuri nikmat Allah. stay busy.. terus berkarya, dimanapun aku berada. Karena ruang dan waku bukanlah halangan bagi rejeki untuk setiap istri yang mampu berdiri tegar di samping suaminya disetiap situasi.. insyaallah :)

Untuk setiap istri yang berani berkomitmen mendampingi suaminya dimanapun berada, yang kuat yaaaa.. Kalo kata mama mertuaku, insyaallah Khaiiirrrr :)

Sabtu, 08 Desember 2012

Keutamaan Membaca Al-Quran


Mamaku selalu menasehatiku untuk sering-sering baca al-Quran. Lebih lagi saat sekarang aku sedang berdiri di tanah rantau, jauh dari sanak saudara. Kepada siapa lagi aku meminta perlindungan kalau bukan kepada Allah? 
Dan ini aku salin dari al-Alquran yang aku baca di sebuah surau (musholla), keutamaan membaca al-quran, semoga semakin membuat kita giat membaca al-Quran ya :)
*berbagi informasi yang positif itu indah


KEUTAMAAN MEMBACA AL-QURAN :

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al-Quran) dan melaksanakan shalat serta menginfakkan sebagian rejeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi" (Q.S. 35 Fathir : 29)

Diriwayatkan dari Abu Umamah r.a., ia berkata, "Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, bacalah al-Quran karena ia akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat kepada ahli-ahlinya" (H.R.Muslim)

Diriwayatkan dari Ibn Mas ud r.a. berkata : Rasulullah SAW telah bersabda, "siapa membaca satu huruf al-Quran, maka ia memperoleh 10 kebaikan. Alif lam mim bukan satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf pula." (H.R. al-tarmidzi; Ia mengatakan bahwa kualitas hadits ini adalah Hasan Shahih)