Sekarang aku punya mama baru, dia adalah mama dari suamiku Iwa. Dari sah nya aku menjadi istri iwa, sah pula aku memanggil seseorang yang biasa aku sebut dengan tante, "mama". Awalnya begitu sulit, bayangkan, 5 tahun aku memanggilanya "tante", dan sekarang aku harus memanggilnya "mama". Cukup canggung aku memulainya. Tapi, suamiku dan saudara-saudaranya selalu mendorongku, dengan candaan tentunya, untuk memanggilnya "mama". Ini sudah 1 minggu lebih dan aku mulai terbiasa. Walaupun masih sering "terpeleset" lidah ini dengan memanggilnya tante.
Mama mertuaku ini luar biasa, beliau suka sekali bercerita. Menceritakan banyak hal baik kepadaku. Menceritakan pengalamannya dimasa muda yang penuh dengan warna, menceritakan tentang kisah cintanya dengan suaminya yang begitu menarik sampai menceritakan tentang banyak hal yang selalu dapat diambil pelajaran dan hikmah. Mama mertuaku ini memiliki banyak sekali cerita yang sering membuatku kagum. Rasanya, ingin sekali kisah-kisahnya itu aku tuliskan ke twitter atau facebook sebagai Quote. hahahaaaa :))
Istiqomahnya dalam beribadah membuatku sering merasa malu, karena aku yang masih sehat ini masih sering lupa akan ibadah. Tapi mama mertuaku tidak pernah bosan mengingatkan. Mengingatkannya pun tidak pernah dalam bentuk perintah. tapi beliau selalu berbagi cerita yang didalamnya dapat terdapat nasehat bijak, sebagai pengingat. Pengingat kita sebagai manusia dalam menjalani hidup ini.
Setelah sholat isya tadi, aku dan mama mertua duduk di depan TV sambil bercerita tentang beberapa hal. Ada 1 buah nasehat yang membuatku termenung dan manggut-manggut. Mama mertuaku menasehati ku untuk terus merawat tali silaturahmi. Beliau bilang, dalam sebuah keluarga, tidak semuanya bisa "jadi orang". Pasti lhah ada saudara kita yang hidup kekurangan. Kita harus selalu ingat, untuk selalu membantu saudara kita. Beliau mengumpamakan, Hidup itu seperti meja makan yang besar dan dilimpahi dengan bermacam-macam makanan. diumpamakan juga, Di sekeliling meja itu duduk saudara-saudara kita. Tidak semua saudara kita itu sehat. Ada yang buta sehingga tidak bisa melihat makanan yang ada di depannya. Ada yang cacat sehingga tidak mampu menjangkau makanan tersebut. Tapi, juga ada yang sehat, dimana dia bisa melihat makanan yang ada didepannya dan tubuhnya masih sehat sehingga dengan mudah mengambil makanan yang ada didepannya untuk di taruh di piringnya kemudian dimakannya. Nah, apakah kita mau jadi seseorang yang sehat itu kemudian makan makanan itu sendirian tanpa membaginya? Seharusnya, yang sehat ini menunjukkan tempat makanan kepada si buta dengan mengarahkannya. Membantu si cacat dengan memapahnya ke makanan di depannya.
Aku tertegun mendengar perumpamaan yang dibuat oleh mama mertuaku. Karena, hal ini adalah hal yang baru saja aku dengar. Aku termenung dan meresapinya. "Iya ya, kita harus selalu ingat dengan saudara. Harus saling bantu. Harus saling support. Kita hidup tidak sendiri di dunia ini. Silaturahmi dan berbagi"
di akhir nasehatnya, mama mertuaku sempat bilang, "bershodaqohlah, maka itu akan menjadi amal mu yang tidak akan putus. bershodaqohlah, karena dengannya kamu tidak akan kekurangan, malah rejeki akan semakin melimpah, entah darimana datangnya. Allah yang balas"
Amin :) Insyaallah Devi selalu ingat ya ma :)
Istiqomahnya dalam beribadah membuatku sering merasa malu, karena aku yang masih sehat ini masih sering lupa akan ibadah. Tapi mama mertuaku tidak pernah bosan mengingatkan. Mengingatkannya pun tidak pernah dalam bentuk perintah. tapi beliau selalu berbagi cerita yang didalamnya dapat terdapat nasehat bijak, sebagai pengingat. Pengingat kita sebagai manusia dalam menjalani hidup ini.
Setelah sholat isya tadi, aku dan mama mertua duduk di depan TV sambil bercerita tentang beberapa hal. Ada 1 buah nasehat yang membuatku termenung dan manggut-manggut. Mama mertuaku menasehati ku untuk terus merawat tali silaturahmi. Beliau bilang, dalam sebuah keluarga, tidak semuanya bisa "jadi orang". Pasti lhah ada saudara kita yang hidup kekurangan. Kita harus selalu ingat, untuk selalu membantu saudara kita. Beliau mengumpamakan, Hidup itu seperti meja makan yang besar dan dilimpahi dengan bermacam-macam makanan. diumpamakan juga, Di sekeliling meja itu duduk saudara-saudara kita. Tidak semua saudara kita itu sehat. Ada yang buta sehingga tidak bisa melihat makanan yang ada di depannya. Ada yang cacat sehingga tidak mampu menjangkau makanan tersebut. Tapi, juga ada yang sehat, dimana dia bisa melihat makanan yang ada didepannya dan tubuhnya masih sehat sehingga dengan mudah mengambil makanan yang ada didepannya untuk di taruh di piringnya kemudian dimakannya. Nah, apakah kita mau jadi seseorang yang sehat itu kemudian makan makanan itu sendirian tanpa membaginya? Seharusnya, yang sehat ini menunjukkan tempat makanan kepada si buta dengan mengarahkannya. Membantu si cacat dengan memapahnya ke makanan di depannya.
Aku tertegun mendengar perumpamaan yang dibuat oleh mama mertuaku. Karena, hal ini adalah hal yang baru saja aku dengar. Aku termenung dan meresapinya. "Iya ya, kita harus selalu ingat dengan saudara. Harus saling bantu. Harus saling support. Kita hidup tidak sendiri di dunia ini. Silaturahmi dan berbagi"
di akhir nasehatnya, mama mertuaku sempat bilang, "bershodaqohlah, maka itu akan menjadi amal mu yang tidak akan putus. bershodaqohlah, karena dengannya kamu tidak akan kekurangan, malah rejeki akan semakin melimpah, entah darimana datangnya. Allah yang balas"
Amin :) Insyaallah Devi selalu ingat ya ma :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar