Namaku Devi Yanuari, umur 23 tahun, baru saja menikah dengan kekasihku Ikhwanurdien Bahalwan. Jadilah saya sekarang seorang nyonya. Semua terasa seperti mimpi, di umurku yang masih tergolong muda ini sekarang telah berkeluarga. Begitu berani untuk mengambil langkah besar, sebuah pernikahan. Sebuah komitmen seumur hidup.
Kami menikah tepatnya tanggal 16 September 2012 kemarin. Jam 8 pagi akad dilanjutkan dengan resepsi jam10.30-12.30. Acara kami cukup sederhana, mengundang hanya "inner circle", saudara, sahabat, teman-teman terdekat dan mereka yang pernah singgah sekaligus memberikan kesan positif dalam hidup kami.
Awal mula, begitu banyak pertimbangan..
Segala sesuatu berjalan begitu cepat, dimulai dari keputusanku untuk menerima pinangan kekasihku, Iwa. Sebenarnya, Iwa sudah memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya, cukup lama, sejak awal tahun 2012. Tapi, kemantapan hati belum juga datang. Hambatan terbesar yang kurasakan adalah adanya keinginan dari diriku untuk bekerja dahulu. Karena, menurutku, aku sudah kuliah begitu tinggi, jika "akhirnya" hanya jadi ibu rumah tangga, alangkah sayangnya. Belum lagi, masih banyak cita-cita yang ingin ku raih. Apalagi saat melihat beberapa teman telah lebih dulu memulai kehidupan berkarirnya, rasanya begitu ingin aku seperti mereka, berkarier.
Saat itu aku berpikir bahwa, jika aku harus menikah dengan iwa sekarang, akan begitu banyak hal dan kesempatan yang aku hilangkan. Karena, saat aku menikah dengan Iwa, pastinya aku harus mengikutinya kemana saja. Iwa yang notabene adalah PNS DJP, dimana dia harus patuh terhadap negara, yaitu mau untuk ditempatkan dimana saja, membuat aku harus meninggalkan Surabaya. Apalagi, penempatan Iwa yang pertama adalah di Kab.Sanggau Kalimantan Barat. Kab.Sanggau jaraknya 4 jam dari ibu kota Pontianak. Bisa dibilang pelosok, tampatnya sepi dan jauh dari "peradapan". Yah, arti peradapan disini adalah jauh dari mall, supermarket, bioskop dll. Bahkan, indomart saja tidak ada dsana -.-a Fast food, apalagi?!?!? >.< hahahaaaa..
Sedangkan, di Surabaya, sudah begitu banyak yang aku bangun. Begitu banyak link yang sudah aku bangun. Begitu banyak organisasi yang aku ikuti. Dari Duta Anti Narkoba, Paguyuban Can dan Ning Surabaya, Putri Indonesia Jawa Timur dan yang terbaru sekaligus yang terberat untuk aku tinggalkan adalah Hijabee Surabaya. Sebuah komunitas wanita berhijab yang paling produktif di Surabaya, dimana aku adalah salah satu komitenya, dengan posisi sebagai "Marketing dan Komunikasi". Ini berat, karena baru saja aku mengepakkan sayapku disini. Bertemu dengan wanita-wanita luar biasa. Mendapatkan kesempatan-kesempatan baru yang luar biasa. Bagus untuk aku secara pribadi, bagus untuk bisnisku dan bagus untuk karir ku kedepannya. This is not easy...
Allah membuka mata hatiku...
Namun, mendadak semuanya berubah saat ramadhan tiba, segala pertimbangan itu dapat kupatahkan dengan mudah. Hatiku begitu mantab untuk memilih menikah dengan kekasihku Iwa. Keinginan untuk lebih memilih hidup bersamanya begitu besar. Perasaan untuk ingin selalu bersama begitu kuat. Saat itu aku berpikir bahwa aku telah memutuskan siapakah lelaki yang akan menjadi pendamping hidupku, dia Ikhwanurdien Bahalwan. Disini sudah sangat jelas, jika aku ingin menikah dengannya, aku harus mengikutinya kemanapun dia ditempatkan oleh negara. Jadi, tidak mungkin aku bisa mempunyai pekerjaan tetap. Jika aku memaksa untuk bekerja kemudian 2 tahun kemudian Iwa dipindahkan, maka aku harus keluar dari pekerjaan itu dan mencari pekerjaan baru ditempat baru, begitu seterusnya. Padahal, secara logika, jika ingin mengejar karir, waktu 1-2 tahun tidaklah cukup. Lagipula, saat aku 2 tahun bekerja lalu kemudian harus meninggalkannya karena mengikuti suami, apakah aku sanggup? Padahal karier sudah terlanjur di bangun, kemudian ditinggalkan begitu saja?!?! ya sayang sekali, itu artinya aku hanya buang-buang waktu.
Daripada aku buang-buang waktu untuk bekerja di orang lain, akan lebih baik aku memilih untuk membangun bisnisku sendiri. Dimana kontrol ada ditanganku. Dan bisnisku dapat tetap aku jalankan walaupun posisiku berada jauh dari pusat bisnisku. Lagipula, dengan berbisnis aku masih dapat mengurus suamu dan keluargaku. Mengingat pengalamanku dalam berbisnis, saat ini aku putuskan untuk benar-benar berfokus dan berkonsentrasi pada bisnis. Jadi, keinginan untuk bekerja untuk orang lain aku ganti dengan keinginan untuk membuka lapangan kerja untuk orang lain, sebesar-besarnya.
Kemudian, aku menelpon kekasihku, dan mengatakan "Iya, aku ingin segera menikah denganmu..."